“Jangan ber-ge-rak..” pria itu berbisik lirih. Tangan kanannya menggenggam sebuah colt .45 yang diacungkan dengan mantap. Alisnya mengerut, ekspresi mukanya kacau, antara shock dan ngeri. Peluh mengucur deras dari dahinya, menetes ke dagunya, dan bahkan merembes ke kerah kemejanya yang kusut dan bau.

“Kenapa? Kenapa kau lakukan ini?” orang yang dia todong bertanya, tubuhnya gemetar. dia tidak bergerak sesenti pun. Posisinya memang kurang menguntungkan, todongan pistol di depan, dan jurang dibelakangnya. Dia terpojok. Pria berumur sekitar 45 – 50 tahun itu lalu mengangkat tangannya dengan enggan.

“Ini belum terlambat, kita bisa membicarakannya.. tak ada yang akan menyalahkanmu.. biarkan aku membantumu..” pria paruh baya itu berbicara. Dia memaksakan dirinya untuk tersenyum.

“Diam!” balas pria yang memegang senjata, dia menggelengkan kepalanya sambil mengeluarkan ekspresi jijik.

“Anak sialan! Aku ayahmu! Kenapa kau tega melakukan ini pada ayahmu sendiri hah!!” air muka pria paruh baya itu mengeras seiring dengan teriakan marahnya. Suaranya bergema di tebing sekitarnya, sebelum tertelan oleh suara air terjun yang memekakkan telinga.

“DIIIIAAAAAAAAMMMMMMM!!!!” pria itu balas berteriak, dan dengan segera dia menarik pelatuk colt .45 nya.

Ω

Blitz..blitz..blitz.. Setiap suara diiringi dengan kilatan cahaya yang membutakan mata, beberapa kamera berkumpul mengerumuni sesuatu, para wartawan yang memegang kamera tersebut berdesak-desakan, saling sikut dan injak untuk mendapatkan angle terbaik. Dihadapan mereka terbaring sesosok mayat. Polisi dengan susah payah memasang police line untuk menjaga agar TKP tetap steril.

Setelah beberapa menit, seorang pria keluar dari kerumunan tersebut, nafasnya tersengal-sengal, kemejanya kusut dan basah oleh keringat. Pria itu kemudian menyandarkan diri di kap mobil sedannya, ia lalu menarik nafas dalam-dalam.

“Bagaima Dik?” sahut sebuah suara dari dalam mobil. Pemilik suara itu keluar dari mobil, lalu segera menghampiri Dika. Tubuhnya tinggi besar, dengan rambut gondong dan kumis serta jenggot yang dicukur sembarangan.

“Brutal bos” Dika tersenyum getir, dia lalu memperlihatkan hasil jepretan kamera Nikkon nya kepada si bos.

Pria yang dipanggil bos menyalakan rokoknya, dia lalu memperhatikan setiap hasil foto Dika sambil menghisap rokoknya dengan nikmat. Foto-foto itu memperlihatkan gambar sesosok mayat yang diambil dari berbagai sudut.

“Korban wanita, identitas tidak diketahui, usia sekitar 25-30 tahun.” Dika membaca catatan kecil yang dibuatnya.
“Diperkirakan meninggal 10-12 jam yang lalu, penyebab kematian belum diketahui, tapi..”

Bos menatap Dika dengan tatapan penasaran, “Tapi..?”

“Saat ditemukan, perutnya dalam keadaan terbuka, dan ada organ tubuhnya yang hilang..”

Dika lalu memperlihatkan sebuah foto dari kameranya, foto itu memperlihatkan gambar perut yang terbuka, penuh darah yang sudah mengering, membuat semua organ dalamnya dapat dilihat dengan mata telanjang. Sang bos memalingkan muka sambil mengernyit ngeri.

“Jantung? pankreas? hati?”

Dika menggeleng, “ginjal.” Ujarnya pelan.

Bos tersenyum, instingnya selama ini benar.

“Sama seperti tiga korban sebelumnya Dik. Ini pembunuhan berantai.” Dia lalu menghisap rokoknya dalam-dalam.
Dika hanya tersenyum lemas.

Ω

Dika sampai di rumah kontrakannya pukul dua pagi, kelelahan. dia lalu melepaskan kemejanya yang basah oleh keringat, kemudian menatap cermin yang menggantung di dinding kamarnya. Dika melihat dengan jelas yang dipantulkan oleh cermin itu. Seorang pria berumur 24 tahun, dengan rambut acak-acakan dan muka kusut, di bawah matanya tedapat sebuah kantung yang menghitam. Sangat terlihat jelas bahwa dia mempunyai kehidupan yang kacau.

Setelah mandi dan sedikit merapikan dirinya, dika membuka laptopnya dan mulai mentransfer hasil jepretannya malam itu. dia memindahkan semua fotonya ke dalam sebuah folder, yang diberi nama “the collector”.

Sang Kolektor.

Begitulah orang-orang menyebutnya. Ya, belakangan ini kota tersebut dilanda horor yang sangat luar biasa, serangkaian pembunuhan terjadi secara beruntun. Dalam dua minggu telah ditemukan tiga mayat, empat dengan hari ini. Pihak kepolisian masih sulit untuk melacak keberadaan sang pembunuh tersebut. Di TKP sama sekali tak ditemukan sidik jari atau petunjuk apapun, kesemua korban tidak mengenal satu sama lain, dan sama sekali tak punya kemiripan apapun.. kecuali.. ya, semua korban ditemukan dalam keadaan bagian tubuh tidak lengkap. Dika kembali membuka file korban-korban sebelumnya.

Korban pertama adalah seorang remaja perempuan. Asri, mayatnya ditemukan di pinggir sungai, dalam keadaan sudah membiru dan membengkak, mulutnya menganga dan matanya membelalak, yang lebih mengerikan adalah hilangnya kedua bagian pipi dari mayat tersebut, membuat mulutnya terbuka menyeringai dari telinga kiri hingga telinga kanan, menampakan sederetan giginya yang dipasangi kawat.

Korban kedua ditemukan beberapa hari kemudian, sesosok mayat pria setengah baya tanpa identitas yang jelas, mayatnya tergeletak disebuah taman di dekat pusat kota. Saat ditemukan, keadaannya sangat mengenaskan, dengan lidah dan mata sebelah kanan yang telah tercabut.

Tapi yang paling parah adalah korban ketiga, sampai sekarang Dika masih tidak percaya bahwa hal seperti itu bisa terjadi di dunia nyata. Korban ketiga adalah seorang satpam di pusat perbelanjaan, dia ditemukan meninggal dalam posisi duduk di posnya sendiri, dengan tempurung kepala terbuka, dan otak yang telah menghilang sebagian.

Dan korban keempat baru saja ditemukan.

Dika menggelengkan kepalanya, ini semua sudah diluar batas kewajaran. Pekerjaan magang di kantor berita kriminal itu seharusnya dia tolak. Entah setan apa yang merasukinya saat dia menandatangani kontrak kerja dulu.

Diapun mematikan laptopnya dan beranjak tidur.

Ω

Dika dibangunkan oleh dering telepon dari handphonenya, dia langsung melirik jam yang ada di samping tempat tidur. 08.45, dia terlambat.

Ω

Dika berlari menuju ruang redaksi, Bos ingin membicarakan sesuatu dengannya.

“Ada apa Bos?” Dika langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu.

“Kita butuh bahan baru..”

Bos duduk dengan kaki terangkat ke meja, tangan kanannya memegang sebatang rokok, dan tangan kirinya sibuk membolak-balik file. “Kita butuh sesuatu yang fresh!, kasus kolektor ini bisa jadi besar Dik! Dan kita gak boleh kalah dengan koran lain.. orang-orang di kepolisian sama sekali gak mau buka mulut! Kita butuh sudut pandang seorang ahli..”

“Well, no problem.. kita tinggal hubungi Pak Hendy dari tim psikologi forensik.. selama ini dia banyak membantu kita.”. Dika menjawab enteng, dia lalu duduk di hadapan bosnya.

Sang bos menggeleng.

“Basi. Media lain sudah ada yang meliput dia secara eksklusif, gak akan efektif.. kita butuh yang lain.”

“Oke, lalu siapa menurut bapak orang yang lebih kompeten di bidang ini daripada Pak Hendy?”. Dika mengangkat bahunya.

“Ada seseorang, psikolog handal kelas dunia. Dia baru kembali dari Paris sekitar dua minggu yang lalu.” Bos tersenyum.

“Err..” Dika terlihat panik. “Jika bapak meminta saya untuk menghubungi orang itu, saya menolak.” Dika lalu dengan buru-buru hendak beranjak keluar.

“Ini bukan permintaan Dika, ini pe-rin-tah! Sekarang juga kamu wawancarai orang itu!”

Dika terdiam sesaat, lalu dengan muka pasrah dia membuat tanda oke dengan tangannya. Lalu beranjak keluar ruangan.

“Tunggu Dik, ini alamatnya..” Bos berteriak dari dalam.

“GAK PERLU PAK, SAYA SANGAT TAU DIMANA AYAH SAYA TINGGAL!” Dika balas berteriak.

Terdengar suara tertawa puas dari dalam ruangan.

Ω

Dika memarkirkan mobilnya di sebuah halaman luas, di depannya berdiri megah sebuah villa bergaya eropa, villa yang memiliki empat lantai itu terletak di daerah perbukitan di pinggiran kota, dengan halaman seluas beberapa lapangan bola, tak ada yang bisa menyangsikan kekayaan dari pemiliknya.

Villa itu sudah dimiliki oleh keluarga ayahnya selama beberapa generasi, konon dulu tempat itu digunakan sebagai markas para penjajah.

Dika turun dari mobilnya, sebelum berjalan dia mengatur nafas sebentar. Hubungan Dika dan ayahnya tidaklah jelek, tapi juga tidak terlalu baik. Semenjak dulu ayahnya selalu sibuk bepergian ke luar negeri, meninggalkan dia dan ibunya. Bahkan sampai ibunya meninggal bertahun-tahun yang lalu, kesibukan ayahnya tak pernah berkurang. Karena itulah selama ini Dika telah terbiasa hidup tanpa figur seorang ayah.

Dika berjalan dengan perlahan menuju pintu depan, sambil mengingat-ngingat kembali kapan terakhir kali dia berkunjung ke sini. Walaupun menikah, kedua orang tuanya tidak hidup bersama, ibunya lebih memilih untuk tinggal di pusat kota, dengan alasan kelengkapan fasilitas. Sementara ayahnya lebih suka tinggal di pinggiran kota karena lebih tentram. Suasana di sini sangat mendukung prakteknya sebagai psikiater.

Dika baru berjalan beberapa langkah ketika dia melihat pintu depan dibuka, dan seorang pria dengan wajah sedikit tirus beranjak keluar. Pria itu melambaikan tangannya, yang dibalas dengan agak canggung oleh Dika.

Ω

Secangkir teh hangat tersaji di meja bundar itu, meja yang terbuat dari kayu jati yang dihiasi dengan perak, entah berapa ratus juta harganya. Setelah menuangkan teh, Franz berbicara.

“Jadi, apa bagaimana kabarmu?” katanya sambil mengaduk-ngaduk teh.

“Baik, sekarang saya bekerja sebagai wartawan lepas di sebuah koran kriminal.”

Franz berhenti mengaduk sesaat, lalu menatap Dika lekat-lekat.

“Wartawan?”

Dika mengangguk, yang disusul oleh keheningan selama beberapa menit. Keduanya tampak merasa canggung untuk memulai perbincangan, terutama perbincangan ayah-anak.

“Err.. sebenarnya saya kesini untuk mewawancarai ayah.” Dika berkata sambil mengeluarkan sebuah file case dari tasnya, dia kemudian menyerahkan kumpulan file itu ke tangan ayahnya.

“Ayah tau kan, belakangan ini dikota ada kejadian pembunuhan berantai. Atasan saya meminta opini ayah sebagai seorang psikolog.”

Franz mengangguk-ngangguk, dia lalu membuka-buka file tersebut dan memperhatikan gambar yang ada disana. Setelah beberapa saat, dia menghirup tehnya.

“Menarik, cukup menarik. Sayangnya ayah tidak melihat langsung TKP nya, tapi dari foto-foto ini bisa ditarik beberapa kesimpulan awal.”

Dika mengeluarkan catatannya.

“Pertama, pelaku kemungkinan seorang dokter, atau mahasiswa kedokteran, atau bekas mahasiswa kedokteran. Terlihat dari bekas sayatannya yang sangat rapi. Kemungkinan dia menggunakan pisau bedah. Kesimpulan yang kedua, semakin menguatkan kesimpulan yang pertama, yaitu dari hilangnya beberapa anggota tubuh korban. Tepat sekali jika kalian menamakannya sang kolektor, dia mungkin mengumpulkan potongan-potongan tubuh itu sebagai sebuah trofi atas aksi-aksinya. Ketiga, dia kemungkinan pernah atau mengalami gangguan jiwa yang cukup parah, mungkin dulu dia pernah mengalami trauma, atau dendam yang sangat luar biasa pada korban-korbannya.”

Dika mencatat semuanya, dia kagum, ayahnya dapat menarik kesimpulan yang cukup mendalam dalam waktu sangat singkat. Dika lalu bertanya tentang satu-dua masalah yang dia tidak pahami dari kasus itu, dan suasana pun mulai mencair.

Ω

Tak terasa bulan sudah mulai naik. Diluar, Dika bisa mendengar suara lolongan serigala yang membuatnya cukup merinding. Setelah mengobrol dengan ayahnya, Dika mendapat beberapa informasi baru yang mungkin cukup berguna bagi Bos. Tapi masih ada hal yang mengganjal, dari obrolan selama beberapa jam itu, semakin lama Dika merasakan sesuatu yang aneh. Ciri-ciri sang kolektor yang disebutkan oleh ayahnya tampak sangat familiar, Dika merasa dia mengenal sang kolektor, mungkinkah salah satu temannya? tapi dia segera mengeyahkan pikiran buruk tersebut.

Dika kemudian membereskan barang-barangnya yang bertebaran di meja. Tak beberapa lama, terdengar bunyi deru mobil yang diparkir diluar, yang diikuti oleh suara bel. Ada seseorang yang datang.

Dia melihat ayahnya membuka pintu, lalu mempersilahkan tamunya masuk.

Dika memperhatikan tamu ayahnya itu, seorang wanita cantik yang berusia kira-kira sama dengannya, rambutnya yang hitam diikat, dan mukanya yang sedikit indo terlihat sangat pucat.

Dika tak ingin mengganggu, jadi dia segera mengambil tasnya dan berniat pulang, tapi belum sempat dia berdiri, ayahnya segera memanggilanya ke ruang makan.

“Dika, perkenalkan, ini Tina, pasien ayah.” Franz berkata memegang pundak mereka.

Dika lalu bersalaman dengan Tina, manis pikirnya. Diapun lalu berkata hendak berpamitan, tapi ayahnya melarang, dia mengajaknya makan malan bersama. “hidangan malam ini spesial.” Ujarnya.

Setengah jam kemudian ayahnya menyajikan makan malam untuk mereka, sejenis irisan daging yang diguyur dengan saus. Aromanya sangat menggugah selera.

Mereka bertiga pun makan sambil bercakap-cakap. Tina tiba-tiba bertanya.

“Mr.Franz, apa nama masakan ini? Dulu aku pernah makan di restoran, tapi aku lupa.”

“Rognons de veau sauce moutarde.” Franz tersenyum.

“Ah iya, aku ingat!.. ini masakan Prancis!” Tina terlihat senang.

Dika hanya menggeleng, dia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Setelah makan Franz menuangkan wine untuk mereka, Dika meminum beberapa teguk, demi menghormati ayahnya.

Setelah itu dia pamit pulang, karena sudah larut. Tapi ketika bangkit dari kursi, dia merasa sangat pusing, tubuhnya limbung. Dia melihat ayahnya dan Tina yang langsung menghampirinya, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi suaranya tak keluar, dan dunia tiba-tiba menjadi gelap.

Ω

Dika bermimpi, hal yang aneh, dia bermimpi saat kecil dulu dia pernah tinggal dengan ayahnya. Dan dia menjadi anak yang sangat nakal.. dia bermimpi berlari-lari sambil tertawa di halaman vila itu, sambil memutar-mutar mayat tupai di tangannya, darah memuncrat ke berbagai arah, ke tangannya, ke bajunya, dan ke wajahnya.. begitupula isi perut sang tupai..

Dika terbangun tiba-tiba..

Dia terengah-engah, mimpi yang mengerikan.. mungkin ini semua karena dia terlalu serius menangani masalah kolektor sialan itu. dia lalu mengusap wajahnya dengan tangan kanan.

Lengket..

Dika merasa heran, dia lalu melihat telapak tangan kanannya..

Darah!

Telapak tangan kanannya bersimbah darah, dia panik, lalu melihat tangan kirinya, yang juga bersimbah darah.. Dika tak mampu berkata apa-apa, dia hanya diam disana, tercengang. Nafasnya memburu, dadanya naik turun.

Panik!

Dia harus segera pergi dari tempat ini. Dengan segera Dika meloncat dari tempat tidur, menyambar tasnya di meja, tapi ketika berjalan, kakinya tersandung oleh sesuatu yang besar, mungkin guling. Dika terjembap, dia memaki sesaat, dan segera melihat apa yang membuatnya tersandung tadi.

“Tina?” Dika melihat Tina yang telungkup menghadap lantai, diapun membalikan tubuh Tina.

“AAAAAAAAAAaaaaaaaaaaa…!!!!” Dika berteriak histeris, dihadapannya tergeletak Tina, dalam keadaan setengah telanjang, dadanya terbuka, menampakan organ dalamnya.

Dika bisa melihat dengan jelas paru-parunya yang bersimbah darah, dan menetes sedikit demi sedikit ke lantai kamar. Tapi yang membuat Dika lebih histeris adalah, di tempat yang seharusnya ada jantung, hanya ada rongga kosong.

Ω

Franz segera berlari ke kamar Tina, dan membanting pintu kamar. Pemandangan di kamar itu sangat mengerikan, darah menggenang di lantai, dan terciprat ke dinding, mayat Tina tergeletak di lantai dengan mengenaskan, telungkup, dengan wajah yang pucat kaku, matanya melotot. Franz melihat ke samping Tina, Dika ada disana, tubunya gemetar, dia memeluk lututnya sendiri sambil mengangis, tangan dan wajahnya penuh noda darah.

“Di…ka..?” Franz memanggil anaknya.

Ω

Dika sangat kaget, ayahnya disana, mengeluarkan ekspresi mengerikan. Dika menggeleng, dia tau apa yang dipikirkan oleh ayahnya.

“Astaga.. jantungnya…”

“Bukan aku.. bukan aku!” Dika histeris, dia langsung bangkit.

“Tenang nak.. tenang, mari kita bicarakan. Ayah bisa menolongmu.” Franz menghampiri anaknya.

“BERHEENTTIIII! Jangan coba-coba bergerak!.. ayah.. ayah yang melakukannya kan? Ayah membunuh Tina, lalu meletakkan mayatnya di kamar ini! Iya kan?”

“A..apa maksudmu?”

“Ternyata ayahlah sang kolektor! dasar sinting!” Dika lalu menghampiri ayahnya, lalu menarik kerah kemeja ayahnya dengan penuh amarah.

“Lepaskan Dika! Apa yang kamu lakukan! Kamu sakit jiwa! Kamulah sang kolektor! Selama ini kamu mecari-cari diri kamu sendiri..”

“BOHOONGG!!!!”

“DIKA! Ayo coba ingat-ingat lagi! Kamu yang membunuh mereka semua.. kemarin ayah mencoba untuk menyadarkan kamu!”

Pegangan Dika terlepas, seperti ada kilat yang menyambar kepalanya.. dia ingat, dia ingat percakapan dengan ayahnya kemarin..

flash! Kilatan cahaya..

kemungkinan dokter atau mahasiswa kedokteran.. Dika tersadar, sampai tahun lalu dia adalah seorang mahasiswa kedokteran, sebelum akhirnya di D.O.

flash! Kilatan cahaya lagi..

dia pernah mengalami trauma.. saat ibunya meninggal Dika trauma berat, di ingat sekarang, dulu dia tinggal bersama ayahnya untuk menjalani terapi, mimpi itu nyata.. Dika memiliki alter ego yang sangat liar dan buas, tanpa belas kasihan. Tapi berkat pengobatan ayahnya, alter ego tersebut dapat ditekan, membuat Dika berubah kembali menjadi anak manis.

“Tidaak… bohoong… aku, bukan pembunuh! AKU BUKAN PEMBUNUUUHHH!!”

“Tenang nak! Ayah bisa meno-..”

Tapi Dika segera berlari keluar dari villa itu, dalam kegilaan.

Ω

Mata Dika terbuka lebar, nafasnya memburu. Dia berlari sepanjang gang yang gelap dan bau itu. wajahnya kumal, rambutnya kusut, jenggot serta kumis mulai tumbuh dengan liar di wajahnya.

Suara sirine polisi…

Dika ingin menghindar sejauh mungkin dari suara itu. Beberapa hari ini dia habiskan dengan hidup di jalanan. Di gang-gang dan kolong jembatan. Setiap kali mendengar bunyi sirine polisi, Dika langsung meringkuk dalam kegelapan. Paranoia.. Perlahan tapi pasti dia kehilangan kewarasannya.

Setelah suara itu mereda, Dika lalu terduduk lemas. Nafasnya memburu naik turun. Matanya memerah. Mulutnya berbusa, dan dia merasa sangat mual.

Muntah.. dia ingin muntah..

Dika kemudian memuntahkan isi perutnya, yang ternyata hanyalah cairan berwarna kekuningan. Dia lemas, dan kelaparan.

Dika sedang berjalan di sebuah gang. Dia mencium aroma makanan, jadi dia berjalan untuk melihat-lihat.

Tempat sampah pun tak masalah.. pikirnya.

Restoran. Dia berada di pintu belakang sebuah restoran. Dari ventilasinya dia bisa mencium bau berbagai macam makanan. Air liurnya menetes dengan deras. Sempat terpikir olehnya untuk mendobrak masuk dan mecuri apa saja yang mungkin dia dapati di dalam sana. Toh ternyata dia adalah seorang pembunuh sadis yang ditakuti oleh orang-orang. Tapi rupanya kewarasannya belum hilang seluruhnya.

Tiba-tiba pintu belakang terbuka, Dika langsung bersembunyi di balik tempat sampah. Dia lalu mengintip, ada dua koki yang sedang berbincang..

“Ya.. bocah sialan itu menumpahkannya, dasar tak tahu diri.. dia bilang masakan itu menjijikan..” koki yang sebelah kiri berbicara.

“Masakan apa?” koki yang disebelah kanan bertanya.

Rognons de veau sauce moutarde, ginjal sapi..” koki yang disebelah kiri menjawab.

Rognons de veau.. tiba-tiba dia ingat makan malam dengan ayahnya. Ginjal?

Dia tercengang, Dika kini mengerti, semuanya masuk akal. Tiba-tiba adrenalin mengalir deras di dalam tubuhnya..Dengan penuh semangat dan tanpa merasakan laparnya lagi, Dika berlari dari sana. Dia harus memastikan semuanya

Ω

Dika mengendap-ngendap ke jendela rumah kontrakannya. Setelah memastikan tidak ada polisi disana, dia lalu melintasi police line dan membuka jendela kamarnya yang memang tak bisa dikunci.

Di dalam, dia segera membuka laptopnya, untuk memastikan sesuatu. Setelah beberapa menit, senyum merekah di wajahnya. Bajingan..

Ω

Franz menutup pintu kamarnya. Hari yang melelahkan. Anaknya belum ditemukan, dan dia telah diinterogasi lebih dari dua belas jam hari ini. Setelah menggantungkan jasnya, Franz berbalik, dia tersentak. Di cermin di kamarnya terdapat tulisan yang dibuat dengan cat atau entah darah.. Aku tau semuanya.. temui aku di tempat kita piknik dulu, sendirian, Kolektor.

Ω

Franz mematikan mesin mobilnya, jalanan di bukit itu tak mungkin dilalui oleh mobil ataupun motor, dia lalu mengambil senter dari bagasi dan menyalakannya. Dia berjalan dengan cepat sepanjang jalan setapak yang menanjak, saat itu sudah lewat tengah malam, suasana sangat mencekam. Beberapa kali dia mendengar suara burung hantu dan lolongan serigala. Membuat bulu kuduknya berdiri.

Tak berapa lama, Franz tiba di tempat itu, dia melihat ke sekeliling, tak ada siapa-siapa. Diapun berjalan ke tepi jurang untuk melihat air terjun. Selama beberapa menit dia diam memandangi air terjun, khidmat menikmati derunya, larut dalam khayanannya sendiri. Tapi tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki di belakangnya.

Franz berbalik.

“Jangan ber-ge-rak..” Dika berbisik lirih.

Ω

Suara tembakan itu terdengar nyaring, memantul ke tebing-tebing di sekitar mereka. Mata Franz membelalak, tembakan itu sengaja dia arahkan ke atas. Efeknya sangat luar biasa, Franz terdiam.

“Kau.. ayah macam apa kau! Teganya kau mempermainkan kewarasan anakmu sendiri. Aku sudah tau, kaulah sang kolektor! Kau yang membunuh Tina dan semua korban yang lainnya!”

“Jangan bicara sembarangan! Jangan menyalahkan orang lain atas kegilaanmu Dika!” wajah Franz mengeras, dengan tatapan jijik, seperti melihat seonggok sampah.

Dika tersenyum.

“Waktu kedatanganmu ke kota ini sama dengan waktu dimulainya semua kejadian mengerikan ini.”

“Hanya itu? dengan alasan itu kau tega menodong ayahmu sendiri? Gila!” Franz mencibir.

“Katakan Yah, kenapa kau tak pernah mengatakan bahwa di Paris terjadi kejadian yang sama dengan disini? Dan kurasa bukan kebetulan semua pembunuhan disana berhenti ketika kau pergi dari Paris..”

Franz terdiam sejenak, dia hendak menjawab, tapi Dika segera memotong.

“Yang terpenting, kenapa kau bisa tau jantung Tina hilang.. padahal saat itu mayatnya telungkup ke bawah?” Dika melanjutkan hipotesisnya.

“JAWAAAABBB!!” Dika berteriak histeris..

Terdengar suara tepuk tangan, yang diiringi oleh suara tawa mengerikan. Franz tersenyum. Kegilaan sekarang terlihat jelas di wajahnya.

“Bravo.. hebat sekali nak, aku yakin kau bahkan tau apa yang kulakukan dengan potongan-potongan tubuh mereka..?”

Dika tiba-tiba merasa mual dan pusing, dia masih belum bisa menerima semua kenyataan itu. Tadi dia bahkan beberapa kali muntah karena merasa jijik.

“Bajingan.. kau memakannya.. KAU KANIBAL BIADAB! Kau bahkan menyajikan ginjal manusia itu pada kami sebagai makan malam! Kenapa kau melakukan itu hah??” Dika tak bisa lagi menahan emosinya, tubuhnya bergetar hebat oleh rasa jijik dan marah yang sangat luar biasa.

“Hahaha, kau tau sendiri nak, kau pernah makan bersamaku, katakan.. bagaimana rasa daging manusia?” Franz tampak puas.

Lalu tiba-tiba dia mendengar bunyi sirine polisi dari kejauhan.

“Wah, rupanya sudah waktunya ayah menyerah.. polisi sudah datang.” Dika tersenyum.

“Well, setauku kau pelakunya, bukan aku.. aku psikiater, dan kau sakit jiwa.” Franz balas tersenyum, dengan tatapan mengejek

“Tidak lagi..” Dika mengeluarkan alat perekam dari sakunya. Yang membuat Franz tercengang. Diapun langsung berlari dengan liar untuk merebutnya, wajahnya memerah, matanya melotot, dan urat-urat di lehernya terlihat jelas. Gila. Dika panik, dengan refleks dia mengangkat tangan kanannya.

Doorrrrrrr….. suara itu menggema dengan kuat, dan Franz jatuh ke dalam kegelapan jurang.

Ω

Dika hanya duduk disana saat polisi datang, dia tak sanggup untuk berkata-kata, jadi dia hanya menyerahkan rekaman pembicaraannya tadi kepada polisi. Dia lalu dibawa ke kantor polisi sebagai saksi. Di dalam mobil Dika tertidur, mimpi buruk ini telah berakhir..

Ω

Mayat Franz tergeletak di dasar jurang, dengan keadaan mengenaskan. Kakinya terpelinting ke belakang, dan darah mengucur deras dari kepalanya. Beberapa binatang ramai mengerumuninya, terutama para serigala. Tapi anehnya tak ada satupun diantara mereka yang berani menyentuh mayatnya. Mereka tampak enggan.

Hanya binatang kecil yang berani, beberapa lipan masuk ke dalam celananya, ada juga tikus masuk ke kemejanya, dan mulai menggigiti dagingnya. Beberapa lagi bolak balik di kakinya.

Seekor tikus merayap ke wajahnya, tatapnnya tertuju pada mulut Franz yang menganga, dan matanya yang melotot. Tikus itu menggerak-gerakan kumisnya. Dia terlihat sangat tertarik dengan mulut Franz. Setelah mengamati beberapa saat, tikus itu masuk ke mulutnya.

……..

…….

Dan mulut itu tiba-tiba mengatup.

Kraus…kraus..kraus..

………

Franz mengunyah, dengan nikmat.

Ω end Ω

Bintaro, 9 Maret 2010

Terinspirasi dari kisah Hanibal Lecter

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
6 Comments
Terlama
Terbaru Terpilih
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
saenaknya

pucciinng hehe

Lin

I like it .
Mkasih ud kasih inspirasi bwt bkin resep baru .
That would be a fenomenal receipe

lin

aq emng ud deactive

subhanallohh..
gini nih kalo jadi selebritis yg sangat diidolakan .
trnyata anda tau tentang sayah .
ckckck .
kagum euy !
haha
keep spiritt !
bagus2 !
gogo andy lauw !
😉

error: maaf, konten web ini telah dilindungi
6
0
Beri Komentarx
()
x