selaksa sayap menghempas bergerak
melayang raga terbaring diangkasa
kuhantar serta denting hati yang melantun sepihak
dalam rinainya melodi kerinduan yang kurasa

kutatap dalam semu
Eksistensi quasi sgala rasa diri
dalam kalbu ia beradu

apakah semua ini benar terjadi?
hati tak lagi bisa membeda rindu dan benci
tak bisa lagi memilah kapan harus melangkah
maupun kapan harus berpasrah..

Pada akhirnya,

kuas detik yang melukis waktu
tak hentinya memenuhi kanvas dengan warna baru
membuat berbagai bentuk harapan
dan juga keputusasaan

namun kau masih tetap membisu
dan aku masih terus menunggu..

– Bintaro, 30 Mei 2010

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
error: maaf, konten web ini telah dilindungi
0
Beri Komentarx
()
x