Kurajut malam ini dengan membayangkan indah senyummu,
terbingkai manis di jendela hatiku,
atau cukuplah terpajang manja di sudut sukmaku.

Senyummu sederhana,
sesederhana keinginanku untuk melihatnya 1 detik lebih lama.

Senyummu indah,
seindah hatiku ketika memikirkannya.

Aku tahu kau miliknya,
sebagaimana kau tahu aku bukan siapa-siapa.

Aku tahu kau memujanya,
sebagaimana kau seharusnya tahu aku memuja senyumanmu.

Aku tahu kau tak mengenalku,
sebagaimana kau tahu aku tak mengenalmu.

Tapi salahkah saat hati memuji?
salahkah saat hatiku berkata,
bahwa kau memiliki senyum paling indah di dunia?

Ah, kuharap waktu berhenti bergerak saat itu.

Ingin rasanya kuculik kronos,
agar ia tak menggerakkan bandul waktu.

Agar aku melihat senyumanmu lebih lama.

Sungguh, aku tak pernah berharap untuk dapat memilikimu,
namun jika Tuhan menghendaki,
cukuplah bagiku memiliki senyumanmu,
niscaya akan kubingkai dan kupajang di kamarku.

Agar bisa kupandangi setiap saat.

Untuk seseorang dengan senyum terindah nomor satu di dunia.

tetaplah bersikap seperti Zakia Nurmala,
karena aku bukanlah Arai.

– Bintaro, 12 Januari 2010
Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
error: maaf, konten web ini telah dilindungi
0
Beri Komentarx
()
x