#19 – Semangat Belajar

Saat berkunjung ke Bangkok pada tahun 2014, ada sebuah tempat yang sangat ingin saya kunjungi.

Tempat itu bukan Grand Palace, Wat Arun, maupun Flower Market, tetapi Masjid. Di kota dengan ratusan kuil megah ini, saya ingin tahu apakah ada masjid yang tak kalah megahnya.⁣

Niat tinggalah niat. Karena sibuk mengunjungi lokasi wisata yang lain, sampai hari terakhir di Bangkok saya tidak sempat menuntaskan niat menjelajah masjid-masjid di Bangkok.

Saya hanya sempat berkunjung ke satu masjid.⁣

Continue reading “#19 – Semangat Belajar”

#17 – Mendefinisikan Kebahagiaan

Maret 2015, tak lama setelah batal menikah, saya pergi backpacking ke Jepang.⁣

Berbekal sebuah buku guide terbitan tahun lawas dan uang tunai seadanya, saya dan satu orang kawan menyusuri jalur darat Tokyo – Kyoto – Osaka selama kurang lebih 10 hari.⁣

Continue reading “#17 – Mendefinisikan Kebahagiaan”

HTBLI #1: Jangan Cek Jadwal Perjalanan/Pekerjaan Kalian

How to Backpacking Like an Idiot: Semacam Pembukaan

Satu pertanyaan awal. Menurut kalian, apa yang paling awal dipersiapkan dalam merencanakan sebuah perjalanan? uang? passport? kamera?

Yup, tepat. tentu saja Itinerary*.

Hal pertama yang harus kita lakukan adalah memastikan jadwal perjalanan kita nggak bentrok dengan agenda lain, misalkan meeting penting dengan klien atau deadline laporan yang harus disetorkan ke pak bos. Kita juga harus memastikan bahwa tanggal tersebut bisa kita ajukan untuk cuti. Betul?

Well.. I don’t do that. 

Continue reading “HTBLI #1: Jangan Cek Jadwal Perjalanan/Pekerjaan Kalian”

How to Backpacking Like an Idiot: Semacam Pembukaan

I am a Noobs* at Backpacking! (or traveling at general). Dari zaman kecil dulu, saya jarang banget sengaja jalan-jalan atau berwisata. Sewaktu masih sekolah, seringnya jalan-jalan ke mall atau bioskop. Kalaupun pergi ke luar kota, biasanya dalam rangka karya wisata sekolah. itupun paling jauh ke Yogyakarta.

Continue reading “How to Backpacking Like an Idiot: Semacam Pembukaan”