[Fiksi] – Kisah Raja Pemalas & Angket Sang Wazir

Alkisah pada zaman dahulu kala, di sebuah tempat nun jauh di sana, tersebutlah sebuah kerajaan yang masyhur. Sayangnya kerajaan itu dipimpin oleh seorang Raja muda yang pemalas.

Sudah menjadi tradisi turun-temurun di kerajaan itu, bahwa pintu kastel akan dibuka dari pagi hingga siang hari agar penduduk bisa mengadakan pertemuan langsung dengan Sang Raja. Keperluan apapun diperbolehkan. Entah itu menyelesaikan sengketa ladang, meminta sumbangan perak dan emas untuk modal berdagang, berkeluh-kesah tentang tetangga yang usil dan jalanan berlubang yang tak kunjung diperbaiki, meminta Sang Raja memberikan berkat untuk anak-anak mereka agar lulus ujian jadi hulubalang kerajaan, ataupun sekadar bercakap-cakap dan bergosip dengan Sang Raja. Perkara apapun itu, pintu kastel akan selalu terbuka bagi para penduduk.

Setiap harinya, sejak cahaya mentari pertama menyinari menara kastel, di gerbang kastel penduduk kerajaan sudah ramai mengantre. Setiap hari pula Sang Raja muda membuka jendela kamarnya yang berada di menara sambil mengeluh.

“Aduh, tak pernah ada habisnya masalah penduduk kerajaan ini. Kuselesaikan satu hari ini, esoknya bertambah lima.”

Sang Raja selalu mencari cara untuk melarikan diri dari kewajibannya. Dari mulai berpura-pura sakit perut, pura-pura linglung, hingga mencoba kabur keluar istana dengan menyamar menjadi tukang kebun kerajaan. Setiap hari ada saja ulahnya yang membuat Sang Wazir dan seluruh pejabat kerajaan kerepotan.

Sang Wazir bekerja di dekat pintu masuk ruang tahta. Di balik sebuah meja yang dipenuhi dengan tumpukan kertas. Bisa dibilang Sang Wazir adalah orang yang paling sibuk di kerajaan. Setiap kali ada orang yang selesai bertemu dengan Sang Raja, dia akan memberikan selembar kertas kepada orang itu, dan meminta mereka untuk mengisinya.

“Apa ini?” tanya mereka setiap kalinya.

“Angket Kepuasan Layanan Kerajaan. Kami selalu berusaha untuk menjaga tingkat kepuasaan penduduk agar selalu di atas 95%,” jawabnya setiap kali.

*

Continue reading “[Fiksi] – Kisah Raja Pemalas & Angket Sang Wazir”

[Fiksi] – Taman Tamasya Tak Hingga

Milo sedang menyeduh secangkir kopi ketika menyadari layar monitornya berpendar. Milo menoleh, tapi dia tampak ragu-ragu. Dia menelengkan kepalanya sedikit, sembari memperhatikan kerlap-kerlip cahaya yang muncul di layar monitor. Milo ingat bahwa terakhir kalinya benda itu berpendar adalah 58.347 hari yang lalu. Jadi bisa dibilang sudah cukup lama. 

Continue reading “[Fiksi] – Taman Tamasya Tak Hingga”

[Fiksi] – Bangku Kosong

Pada hari itu, Romi memutuskan untuk pulang lebih awal. Kepalanya pening seperti mau pecah. Walau begitu, dia tidak ingin ke dokter, dia hanya ingin merebahkan diri di kasurnya yang empuk.

Ketika dia melangkahkan kaki keluar dari pintu depan kantor, jam di tangannya baru menunjukkan pukul setengah lima sore.

Dia menyusuri trotoar di sepanjang jalan besar, menuju ke halte bus tempat dia biasa naik.  Bagi Romi yang setiap hari selalu pulang kerja larut malam, pemandangan sore hari malah terasa amat ganjil.

Continue reading “[Fiksi] – Bangku Kosong”

[Fiksi] – Getihwesi (IV)

Beberapa hari yang lalu, saat timnya memutuskan untuk menyelidiki fenomena gunung berapi Laduwesi, salah seorang senior di kantor mendatangi kubikel Rendy. Seniornya itu adalah pria paruh baya dengan rambut dan kumis tebal yang mulai berwarna putih. Sambil mengembuskan asap rokok, senior itu berbicara pelan-pelan di dekat telinganya.

Kalian enggak usah ke sana, percuma. Hampir semua peneliti lama di sini sudah tahu soal fenomena di gunung Laduwesi, tapi mereka membiarkan saja. Penelitian kalian hanya akan menambah pertanyaan daripada jawaban. Ada banyak hal ganjil terjadi di sana, hal mistis dan di luar akal sehat, salah-salah kalian semua enggak bisa pulang.

Pria itu juga mengatakan bahwa kawah Laduwesi hanya aktif setiap selama satu minggu setiap tiga tahun sekali. Setelah ada aktivitas vulkanik kecil, gunung itu akan tertidur lagi.

Mirip seperti binatang yang sedang hibernasi, ujar seniornya itu, sambil kembali mengembuskan asap rokok.

Continue reading “[Fiksi] – Getihwesi (IV)”

[Fiksi] – Getihwesi (III)

Mimpi tentang kakaknya selalu dimulai dengan pemandangan yang sama. Gunung Vesuvius meletus; menggelegar, melahap seluruh penduduk kota Pompeii. Sementara dia dan kakaknya melayang di angkasa, memerhatikan semua itu dari kejauhan. Teriakan putus asa dan rintih kesakitan memekakan telinganya. Udara terasa pengap dan panas. Langit di atasnya merah, dan daratan di bawah membara. Pada titik ini kakaknya akan menoleh dan tersenyum.

Semua hal yang diberikan bisa diambil lagi, ingat itu, bisik kakaknya lirih.

Biasanya mimpinya akan berakhir di situ. Tapi kali ini tidak, Astri bisa merasakan bau mayat-mayat yang terbakar, serta bangunan-bangunan dan bebatuan yang meleleh. Dia bisa mencium dengan jelas,

bau amis darah dan besi memenuhi udara …

Continue reading “[Fiksi] – Getihwesi (III)”

[Fiksi] – Kincir Angin

Dua minggu yang lalu aku berpapasan dengan seorang lelaki tua.

Tubuh lelaki tua itu terlihat ringkih. Wajahnya bertekuk. Dia berjalan tertatih menyusuri trotoar di pinggir jalan raya.

Dipikulnya tiga batang bambu panjang. Di ujung tiap bambu terpasang kincir angin mainan dengan bilah berwarna warni. Merah, kuning, hijau.

Zaman sekarang, siapa yang mau membeli mainan kuno semacam itu? pikirku.

Aku mengkhawatirkan lelaki tua itu, tapi hanya sambil lalu.

Continue reading “[Fiksi] – Kincir Angin”

[Fiksi] – Sang Mualim

Pagi itu sang mualim dibangunkan oleh semburat sinar matahari dari sela-sela jendela kabin. Setelah mengerjap beberapa kali, dia bangun sambil menggaruk kepala. Sang mualim kemudian membuka tirai penutup jendela, membiarkan cahaya menerangi ruangan mungil yang menjadi tempatnya tidur setiap malam.

Setelah meregangkan tubuhnya yang pegal-pegal karena harus tidur dengan posisi meringkuk, dia berpakaian dan berjalan keluar dari kamarnya.

Continue reading “[Fiksi] – Sang Mualim”

[Fiksi] – Getihwesi (II)

Astri merasakan tubuhnya ditarik tiba-tiba. Dia menoleh. Di belakangnya berdiri seorang pria muda yang mengenakan setelan beskap[1]. Pria itu bermata teduh dengan kulit putih pucat. Usia pria itu mungkin hanya beberapa tahun lebih tua daripada dirinya. Setelah menarik tubuh Astri, dia mengeluarkan sapu tangan putih dan mengelap jemari Astri yang basah dengan noda berwarna merah.

“Mbak, air hujan merah ini berbahaya jika tidak segera dibersihkan,” ujar pria itu. Suaranya ternyata sehalus dan selembut sorot matanya. “Perkenalkan, saya Pringadi, Kepala Desa Getihwesi. Mas Mo, tolong antar Mbaknya ini diantar cuci tangan,” perintahnya.

Continue reading “[Fiksi] – Getihwesi (II)”

[Fiksi] – Getihwesi (I)

“Seharusnya kita sudah dekat,” ujar Rendy. Dia menggaruk kepalanya sambil membolak-balik selembar peta lecek di atas kepalanya. Astri mengangguk pasrah, dia sudah terlalu lelah untuk protes ataupun sekadar meladeni perkataan Rendy. Yanti yang sedari tadi duduk di atas batu juga hanya terdiam. Nafasnya terengah-engah. Kaus dan kardigan cokelat yang dia kenakan tampak basah oleh keringat.

Setelah beristirahat untuk minum selama lima menit, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Ketiganya berjalan beriringan, menapaki rumput, ilalang tinggi dan pepohonan besar yang menutup langit di atas mereka dengan rapat.

Rendy yang berjalan paling depan dengan sigap mengayunkan belati yang dibawanya untuk membuka jalan. Sementara Astri dan Yanti melihat ke sekeliling, mencari tanda-tanda keberadaan manusia di tengah belantara ini.

Sekitar satu setengah jam kemudian mereka akhirnya menemukan sebuah jalan setapak kecil yang sepertinya sering dilewati oleh manusia. Rendy dan Yanti kompak berseru girang.

Mereka mulai berjalan dengan lebih cepat. Seiring dengan pemandangan hutan yang mulai berubah menjadi ladang-ladang, mereka mulai mencium bebauan yang aneh.

“Ini …, bau belerang?” tanya Yanti sambil menutup hidung.

Astri menggeleng, “Ini bau besi,” ujarnya. “Lihat, kita sudah dekat,” lanjutnya sambil menunjuk ke lereng gunung berapi yang mulai terlihat di depan mereka.

“Getihwesi,” ujar Rendy sambil menelan ludah.

Continue reading “[Fiksi] – Getihwesi (I)”

[Fiksi] – Tempat Teraman

“Cepat-cepat, lewat sini!” teriakku sambil menunjuk ke sebuah terowongan yang terbentuk di sela-sela akar sebuah pohon besar.

Di belakangku, tiga anak kecil berusia enam tahunan mengekor. Kami berempat mengenakan piyama kusam yang sudah compang-camping karena usia dan juga telah tergores ranting dan dahan pepohonan di sana-sini.

Continue reading “[Fiksi] – Tempat Teraman”