[Fiksi] – Getihwesi (I)

“Seharusnya kita sudah dekat,” ujar Rendy. Dia menggaruk kepalanya sambil membolak-balik selembar peta lecek di atas kepalanya. Astri mengangguk pasrah, dia sudah terlalu lelah untuk protes ataupun sekadar meladeni perkataan Rendy. Yanti yang sedari tadi duduk di atas batu juga hanya terdiam. Nafasnya terengah-engah. Kaus dan kardigan cokelat yang dia kenakan tampak basah oleh keringat.

Setelah beristirahat untuk minum selama lima menit, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Ketiganya berjalan beriringan, menapaki rumput, ilalang tinggi dan pepohonan besar yang menutup langit di atas mereka dengan rapat.

Rendy yang berjalan paling depan dengan sigap mengayunkan belati yang dibawanya untuk membuka jalan. Sementara Astri dan Yanti melihat ke sekeliling, mencari tanda-tanda keberadaan manusia di tengah belantara ini.

Sekitar satu setengah jam kemudian mereka akhirnya menemukan sebuah jalan setapak kecil yang sepertinya sering dilewati oleh manusia. Rendy dan Yanti kompak berseru girang.

Mereka mulai berjalan dengan lebih cepat. Seiring dengan pemandangan hutan yang mulai berubah menjadi ladang-ladang, mereka mulai mencium bebauan yang aneh.

“Ini …, bau belerang?” tanya Yanti sambil menutup hidung.

Astri menggeleng, “Ini bau besi,” ujarnya. “Lihat, kita sudah dekat,” lanjutnya sambil menunjuk ke lereng gunung berapi yang mulai terlihat di depan mereka.

“Getihwesi,” ujar Rendy sambil menelan ludah.

Continue reading “[Fiksi] – Getihwesi (I)”

[Fiksi] – Simbol (Bagian II – Selesai)

Kami menyusuri sebuah lorong yang panjang dan gelap. Penerangan hanya berasal dari satu-dua lampu LED yang berada di langit-langit. Kapten berjalan paling depan sementara Ollie berjaga paling belakang. Di antara mereka berdua aku dan Lewis berjalan beriringan. Aku berjaga dengan extra siaga karena Lewis hanya bisa menggunakan sebelah tangannya.

Continue reading “[Fiksi] – Simbol (Bagian II – Selesai)”

[Fiksi] – Simbol (Bagian I)

Kami berlima meringkuk di balik sebuah tembok beton reruntuhan bangunan peradaban lama. Di seberang sana riuh dengan desingan senapan laser dan dentuman granat antimatter. Tentara Imperium dan Republik perlahan tapi pasti mulai merangsek masuk dan menjadikan tempat ini arena pertempuran.

Negara kecil ini akan segera hancur. Tapi sebelum itu terjadi, kami harus bisa mengambil benda yang menjadi penyebab semua peperangan ini. Sebuah harapan. Sebuah simbol.

Antara kami dan tempat benda itu disimpan, berdiri beberapa buah Crawler, robot-monster setinggi tiga meter. Cakar-cakar mereka berlapis baja, bisa dengan mudah mengoyak dinding beton. Keenam mata mereka berputar liar, mengawasi keadaan sekitar. Punggung mereka berdengung, dengan lubang-lubang yang mengeluarkan asap panas.

Continue reading “[Fiksi] – Simbol (Bagian I)”

[Fiksi] – Tempat Teraman

“Cepat-cepat, lewat sini!” teriakku sambil menunjuk ke sebuah terowongan yang terbentuk di sela-sela akar sebuah pohon besar.

Di belakangku, tiga anak kecil berusia enam tahunan mengekor. Kami berempat mengenakan piyama kusam yang sudah compang-camping karena usia dan juga telah tergores ranting dan dahan pepohonan di sana-sini.

Continue reading “[Fiksi] – Tempat Teraman”

[Fiksi] – Rumah Pesirkus

“Yakin rumahnya yang ini?” tanya Sisca. Danu mengangguk singkat, sambil memarkirkan mobilnya di halaman depan. Setelah mematikan mesin dia keluar dari dalam mobil, lalu melihat ke sekeliling. Rumah itu tampak berantakan. Ilalang tumbuh subur di setiap sudut taman. Debu dan sampah menumpuk di sana sini.

“Seingatku dulu rumahnya tak sebobrok ini,” gumam Danu. Dia merasa udara di sekitarnya berat karena bau apek yang menyeruak dari dalam rumah. “Kamu nyium bau apek, ga?”

“Kayaknya dari dalam rumah. Kapan terakhir kali rumah ini ditempati?” jawab Sisca sambil menutup hidung.

“Paman meninggal lima tahun yang lalu. Sejak itu rumah ini nggak pernah ditempati lagi.”

Continue reading “[Fiksi] – Rumah Pesirkus”

[Fiksi] – Perut yang Berbisik

Suatu malam, seorang wanita mendatangi klinik dokter Gerry. Wanita itu mengeluhkan bahwa perutnya belakangan ini sering berbisik dan menyuruhnya untuk makan berbagai benda.

Wanita itu mengenakan daster abu-abu bergaris. Menurutku dia cukup cantik. Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Kulitnya putih, tapi cenderung pucat.

Continue reading “[Fiksi] – Perut yang Berbisik”

[Fiksi] – Bersih-bersih

Aku tak pernah membiarkan pacarku membersihkan rumah. Aku takut.

Jika dia dibiarkan bersih-bersih, dia selalu berteriak dan memaki, mengeluhkan bagaimana bisa rumah kami sebegitu kotor dan menjijikannya. Padahal dia sendiri yang selalu membuat rumah kami berantakan.

Dia juga suka melotot dan memukulku kalau aku kedapatan membuang abu atau puntung rokok sembarangan.

Seperti saat ini, aku sangat ketakutan.

Pacarku berdiri di sampingku, kepalanya agak tertunduk, matanya membelalak memelototiku yang sedang mengepel lantai.

“Maaf, maaf, aku akan segera membersihkannya, sayang. Kamu jangan marah.” Gumamku berkali-kali sambil menyeka cairan kental di lantai keramik dengan lap pel.

Tapi genangan darah di lantai yang muncrat keluar dari leher pacarku tak juga bisa dibersihkan.

Lampung, 16 Agustus 2020

Foto Sampul: pan xiaozhen on Unsplash

[Fiksi] – Menghitung Hari

Kisah Eksperimental kedua yang saya buat bersama dengan Noury. Dalam kisah ini kami mencoba menceritakan sebuah ide hanya dengan medium kalender dan post-it yang sering ditemukan di atas meja pekerja kantoran. Ide yang coba disampaikan memang sangat sederhana. Permasalahannya apakah kami sebagai pencerita berhasil menyampaikan ide itu atau tidak.

[Fiksi] – Kartu Nama

Ini adalah salah satu contoh Kisah Eksperimental yang saya buat bersama dengan Noury. Seperti yang telah dibahas dalam postingan sebelumnya, medium bercerita visual seperti ini menimbulkan berbagai persepsi dan kemungkinan. Detail-detail dalam kartu nama dalam kisah di atas jika dilihat dengan konteks yang berbeda, akan menghasilkan interpretasi dan pengalaman membaca yang berbeda-beda pula.

Continue reading “[Fiksi] – Kartu Nama”