[Fiksi] – Getihwesi (Bagian 2)

“Jangan disentuh, bahaya!” Teriak seseorang di belakang Astri. Mendengar teriakan itu, Astri sontak menarik tangannya dari bawah tetasan air. Ia menoleh ke belakang, Kusumo tergopoh-gopoh berlari ke arahnya. Di sebelah Kusumo berjalan seorang pria. Pria itu mengenakan beskap[1]. Dia terlihat masih muda, mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dari Astri. Wajahnya halus, dan sorot matanya lembut.

“Air hujan merah ini berbahaya jika disentuh,” ujar pria itu. Suaranya ternyata sehalus dan selembut sorot matanya. Dia menyeka tangan Astri dengan sapu tangan putih yang dibawanya, seraya memperkenalkan diri. “Saya Pringadi, Kepala Desa Getihwesi. Mas Mo, tolong antar Mbaknya ini diantar cuci tangan,” perintahnya.

Continue reading “[Fiksi] – Getihwesi (Bagian 2)”

[Fiksi] – Getihwesi (Bagian I)

“Seharusnya kita sudah dekat,” ujar Rendy. Dia menggaruk kepalanya sambil membolak-balik selembar peta lecek di udara. Astri mengangguk pasrah, dia sudah terlalu lelah untuk protes dan mengomel. Yanti yang sedari tadi duduk di atas batu juga hanya terdiam. Nafasnya terengah-engah. Kaus dan kardigan yang dia kenakan tampak basah oleh keringat.

Setelah beristirahat untuk minum selama lima menit, mereka bertiga memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Sekitar setengah jam kemudian mereka menemukan jalan setapak yang sepertinya sering digunakan oleh warga sekitar.

Continue reading “[Fiksi] – Getihwesi (Bagian I)”