Untuk Ayah

Terlalu cepat..
jika boleh aku katakan, Engkau renggut takdir yang terjalin diantara kami. Pria gagah yang dulu kubanggakan, kini tinggal kenangan.

Terlalu cepat..
jika boleh aku sayangkan, Engkau buat dia meninggalkan kami semua. Pria bijaksana yang dulu kujadikan panutan, kini tinggal dalam angan.

Ayah, masih banyak yang belum sempat kubuktikan, apalagi kuberikan. membalas kasih sayangmu pun rasanya belum tuntas aku laksanakan.. masih jauh jalanku untuk jadi anak yang bisa kau banggakan.. tapi rupanya semua itu takkan pernah sempat kutunjukan.

Ayah, masih banyak yang belum aku katakan, setumpuk persoalan yang belum sempat kita diskusikan. juga belum sempat kuucapkan, betapa aku, ibu, kami semua menyayangimu sepenuh hati.

Lihatlah aku ayah..

lihat aku yang sekuat tenaga menahan perih dan getir, bersusah payah mengunci tangis dalam sanubari. lihatlah aku yang berusaha tegar untuk dirimu..

lihat ibu yang sedang menangis sendu, wanita yang cintanya tak pernah habis untukmu. kekasih hati yang senantiasa menemanimu.. lihatlah bagaimana sekarang dia tertunduk lesu..

Kepada siapa sekarang aku harus mengadu..
langkah siapa yang harus aku tiru..

aku tak tau..

Tabahkanlah hati ibu oh Tuhan.. jangan biarkan kesedihan terus mewarnai harinya kelak, Karena kami tau Engkau Maha Pengasih.. karna kami yakin Engkau Maha Penyayang.

Kuatkanlah hati kami mulai saat ini Ya Tuhan, bulatkan tekad kami, kuatkan iman kami.. karna kami semua tau, Setiap yang berasal dariMu akan kembali lagi padaMu.. Karna Engkau Maha Adil

Mudahkanlah jalan kami, jadikan cobaan ini tambalan bagi iman kami.. karna Engkau Maha Tahu, apa-apa yang terbaik bagi kami..

Biarkan kami semua berkumpul kembali kelak, dalam dekapan cahaya surga.. kali ini untuk selamanya.

Untuk sahabat saya, Dona dan Doni, serta keluarganya besarnya.
Allah tau yang terbaik, Allah tau yang terbaik.

Bandung, 27 November 2010

error: maaf, konten web ini telah dilindungi