Pentolers – Sembilan Tahun Kemudian

Tadi malam, masih dalam rangka merapikan blog. Saya kembali membaca serial yang dibuat buat pada masa awal notes masih happening di Facebook. Catatan-catatan yang kemudian saya post ulang di blog ini beberapa waktu setelahnya.

Catatan-catatan tersebut sebagian besar menceritakan tentang keseharian saya bersama kawan-kawan satu kost pada masa awal kuliah. di sebuah kost-kostan milik Pak Pentol yang terletak di gang Kalimongso, Bintaro.

Persahabatan yang kala itu tak ada dari kami yang mengira, akan berjalan begitu lama dan mengakar begitu kuat. Sampai detik ini.

Continue reading “Pentolers – Sembilan Tahun Kemudian”

Heartbreak Series #9 – End

Aku harap kau membaca ini.

Bukan maksudku untuk membuatmu meragu. Aku hanya ingin agar kau tahu bahwa beginiliah semuanya ternyata berakhir. Dengan kau duduk di pelaminan, sedang aku tak kuasa walau hanya memandang dari kejauhan. Impianmu tercapai, membuat hidupku hancur berantakan.

Continue reading “Heartbreak Series #9 – End”

Bioskop

Aku melihat kita..

Kali ini dalam putaran bisu seluloid yang berpendar. Bercahaya muram di layar kusam. Memunculkan frame demi frame kisah kita dalam balutan warna technicolor yang mulai buram.

Aku duduk disana, seperti biasa. Baris kelima dari atas, bangku nomor duabelas. Tanganku menggenggam dua buah tiket kertas. Monoton, Aku mencoba menonton bersama sebungkus pop corn.

Ah! Itu kita..

Betapa kita masih belia dan belum dewasa. Betapa kita nyaman berjalan dalam senyuman. Betapa kita gembira berbicara dalam gelak tawa. Betapa kita hidup bahagia dalam bersama.

Aku tersipu.. Merasa malu. Dalam gambar itu hanya ada kita berdua, suka cita

Dan saat ini adalah aku yang duduk di bangku itu,yang datang secara rutin untuk menontonnya, menikmatinya, mengenangnya..

Tapi seperti biasanya, hanya aku sendirian disini, kau tak pernah datang menonton.

Bintaro, 21 September 2011

Antara Kita

Kau dan aku duduk berhadapan, dalam sebuah kendaraan yang kita sebut dengan kehidupan.

Telah lama kita bersama, lalui jalan berkelok dan tikungan, aspal dan bebatuan, kerikil dan debu berterbangan, dalam buaian siang dan malam. Kita saling berbicara.. Bertukar cerita dan pengalaman, berbagi tawa serta impian.

Namun, entah mengapa kita tak pernah berani bertatap mata, entah mengapa kita ragu untuk membicarakan cinta, kitapun terlalu kaku untuk berkata rindu.

Aku tak tahu..

Mungkin karena kita berdua terlalu pemalu.. Selalu berlindung dibalik gurauan-gurauan semu. Mungkin karena kita merasa bahwa kita tak ditakdirkan untuk bersatu, sehingga hati kita dibuat membatu..

Atau mungkin karena kita berdua telah mengerti dan menerima, bahwa ini semua telah terlambat.. Dan kita tak bisa kembali tuk mengulangi..

Untuk mereka semua yang menyembunyikan diri di balik topeng persahabatan.

– Bintaro, 22 Juni 2011

Cangkir

 

Memandangi sebuah cangkir biru,

Cangkir yang sekarang berwarna kelabu dan berdebu.
Cangkir yang dulu kau berikan kepadaku.
Cangkir plastik dengan pegangan cantik.

“Aquarius,” katamu.

“Simpan selalu, agar kau ingat padaku,” katamu lagi.

Ah, seandainya dulu aku yang boleh memilih.

Bolehkah kupilih hatimu saja daripada cangkir itu?

Memang warnanya merah jambu, sama sekali bukan seleraku.
Memang bahannya bukan dari plastik, akan retak jika tak kujaga dengan baik.
Memang tak memiliki pegangan cantik, sehingga sangat mudah untuk terbalik

Tapi toh itu mauku.
agar kau tak beranjak pergi, agar kau tetap disini.

tapi ternyata kau lebih memilih untuk memberikan cangkir itu,

daripada hatimu.

Bintaro, 3 April 2011

Picisan

Apa yang harus kulakukan?

Haruskah kusambut pagi yang kan datang,
menjelang bersama dengan datangnya terang
lalu merekah bersama riuh rendah ayam yang berkumandang?

Ataukah harus kuratapi malam yang segera kan berganti?
yang masih setia menyelimuti,
walaupun akan segera mati.

Aku ingin tetap duduk dalam sepi
dalam balutan bintang dan dekapan rembulan
Aku kesepian, tapi setidaknya aku merasa nyaman.

Haruskah kurelakan?

Aku terlentang pada saat pagi datang
menatapnya membawa serta matahari dan awan,
kicau burung dan juga harapan.
diapun menjanjikan masa depan.

Tapi bagaimana jika suatu saat aku merindukan malam?
sedang saat itu mentari sedang duduk manis diatas awan..

Jika malam adalah rasaku padamu,
dan pagi adalah rasaku padanya,

Apa yang harus kulakukan??

– Bintaro, 17 Mei 2010

error: maaf, konten web ini telah dilindungi