[Fiksi] – Getihwesi (IV)

Beberapa hari yang lalu, saat timnya memutuskan untuk menyelidiki fenomena gunung berapi Laduwesi, salah seorang senior di kantor mendatangi kubikel Rendy. Seniornya itu adalah pria paruh baya dengan rambut dan kumis tebal yang mulai berwarna putih. Sambil mengembuskan asap rokok, senior itu berbicara pelan-pelan di dekat telinganya.

Kalian enggak usah ke sana, percuma. Hampir semua peneliti lama di sini sudah tahu soal fenomena di gunung Laduwesi, tapi mereka membiarkan saja. Penelitian kalian hanya akan menambah pertanyaan daripada jawaban. Ada banyak hal ganjil terjadi di sana, hal mistis dan di luar akal sehat, salah-salah kalian semua enggak bisa pulang.

Pria itu juga mengatakan bahwa kawah Laduwesi hanya aktif setiap selama satu minggu setiap tiga tahun sekali. Setelah ada aktivitas vulkanik kecil, gunung itu akan tertidur lagi.

Mirip seperti binatang yang sedang hibernasi, ujar seniornya itu, sambil kembali mengembuskan asap rokok.

Continue reading “[Fiksi] – Getihwesi (IV)”

[Fiksi] – Getihwesi (III)

Mimpi tentang kakaknya selalu dimulai dengan pemandangan yang sama. Gunung Vesuvius meletus; menggelegar, melahap seluruh penduduk kota Pompeii. Sementara dia dan kakaknya melayang di angkasa, memerhatikan semua itu dari kejauhan. Teriakan putus asa dan rintih kesakitan memekakan telinganya. Udara terasa pengap dan panas. Langit di atasnya merah, dan daratan di bawah membara. Pada titik ini kakaknya akan menoleh dan tersenyum.

Semua hal yang diberikan bisa diambil lagi, ingat itu, bisik kakaknya lirih.

Biasanya mimpinya akan berakhir di situ. Tapi kali ini tidak, Astri bisa merasakan bau mayat-mayat yang terbakar, serta bangunan-bangunan dan bebatuan yang meleleh. Dia bisa mencium dengan jelas,

bau amis darah dan besi memenuhi udara …

Continue reading “[Fiksi] – Getihwesi (III)”

[Fiksi] – Getihwesi (II)

Astri merasakan tubuhnya ditarik tiba-tiba. Dia menoleh. Di belakangnya berdiri seorang pria muda yang mengenakan setelan beskap[1]. Pria itu bermata teduh dengan kulit putih pucat. Usia pria itu mungkin hanya beberapa tahun lebih tua daripada dirinya. Setelah menarik tubuh Astri, dia mengeluarkan sapu tangan putih dan mengelap jemari Astri yang basah dengan noda berwarna merah.

“Mbak, air hujan merah ini berbahaya jika tidak segera dibersihkan,” ujar pria itu. Suaranya ternyata sehalus dan selembut sorot matanya. “Perkenalkan, saya Pringadi, Kepala Desa Getihwesi. Mas Mo, tolong antar Mbaknya ini diantar cuci tangan,” perintahnya.

Continue reading “[Fiksi] – Getihwesi (II)”

[Fiksi] – Rumah Pesirkus

“Yakin rumahnya yang ini?” tanya Sisca. Danu mengangguk singkat, sambil memarkirkan mobilnya di halaman depan. Setelah mematikan mesin dia keluar dari dalam mobil, lalu melihat ke sekeliling. Rumah itu tampak berantakan. Ilalang tumbuh subur di setiap sudut taman. Debu dan sampah menumpuk di sana sini.

“Seingatku dulu rumahnya tak sebobrok ini,” gumam Danu. Dia merasa udara di sekitarnya berat karena bau apek yang menyeruak dari dalam rumah. “Kamu nyium bau apek, ga?”

“Kayaknya dari dalam rumah. Kapan terakhir kali rumah ini ditempati?” jawab Sisca sambil menutup hidung.

“Paman meninggal lima tahun yang lalu. Sejak itu rumah ini nggak pernah ditempati lagi.”

Continue reading “[Fiksi] – Rumah Pesirkus”

[Fiksi] – Perut yang Berbisik

Suatu malam, seorang wanita mendatangi klinik dokter Gerry. Wanita itu mengeluhkan bahwa perutnya belakangan ini sering berbisik dan menyuruhnya untuk makan berbagai benda.

Wanita itu mengenakan daster abu-abu bergaris. Menurutku dia cukup cantik. Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Kulitnya putih, tapi cenderung pucat.

Continue reading “[Fiksi] – Perut yang Berbisik”