[Fiksi] – Getihwesi (I)

“Seharusnya kita sudah dekat,” ujar Rendy. Dia menggaruk kepalanya sambil membolak-balik selembar peta lecek di atas kepalanya. Astri mengangguk pasrah, dia sudah terlalu lelah untuk protes ataupun sekadar meladeni perkataan Rendy. Yanti yang sedari tadi duduk di atas batu juga hanya terdiam. Nafasnya terengah-engah. Kaus dan kardigan cokelat yang dia kenakan tampak basah oleh keringat.

Setelah beristirahat untuk minum selama lima menit, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Ketiganya berjalan beriringan, menapaki rumput, ilalang tinggi dan pepohonan besar yang menutup langit di atas mereka dengan rapat.

Rendy yang berjalan paling depan dengan sigap mengayunkan belati yang dibawanya untuk membuka jalan. Sementara Astri dan Yanti melihat ke sekeliling, mencari tanda-tanda keberadaan manusia di tengah belantara ini.

Sekitar satu setengah jam kemudian mereka akhirnya menemukan sebuah jalan setapak kecil yang sepertinya sering dilewati oleh manusia. Rendy dan Yanti kompak berseru girang.

Mereka mulai berjalan dengan lebih cepat. Seiring dengan pemandangan hutan yang mulai berubah menjadi ladang-ladang, mereka mulai mencium bebauan yang aneh.

“Ini …, bau belerang?” tanya Yanti sambil menutup hidung.

Astri menggeleng, “Ini bau besi,” ujarnya. “Lihat, kita sudah dekat,” lanjutnya sambil menunjuk ke lereng gunung berapi yang mulai terlihat di depan mereka.

“Getihwesi,” ujar Rendy sambil menelan ludah.

Continue reading “[Fiksi] – Getihwesi (I)”