[Fiksi] – Getihwesi (Bagian I)

“Seharusnya kita sudah dekat,” ujar Rendy. Dia menggaruk kepalanya sambil membolak-balik selembar peta lecek di udara. Astri mengangguk pasrah, dia sudah terlalu lelah untuk protes dan mengomel. Yanti yang sedari tadi duduk di atas batu juga hanya terdiam. Nafasnya terengah-engah. Kaus dan kardigan yang dia kenakan tampak basah oleh keringat.

Setelah beristirahat untuk minum selama lima menit, mereka bertiga memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Sekitar setengah jam kemudian mereka menemukan jalan setapak yang sepertinya sering digunakan oleh warga sekitar.

Continue reading “[Fiksi] – Getihwesi (Bagian I)”