Debu

Kita terombang-ambing dalam waktu,

bagai debu-debu yang berterbangan ditengah sorotan mentari senja di balik jendela.

Hidup terasa semakin tergesa.

Kemarin dua puluh lima, hari ini tiga puluh, esok mungkin tiga puluh lima.

Besertanya ada goresan-goresan luka, duka, dan air mata. Juga canda, tawa, dan suka cita.

Aku harap bilangan-bilangan itu menjadikan kita bertambah dewasa, Aku harap angka-angka itu membuat kita semakin bijaksana.

Aku harap kita terus saling percaya dan saling menjaga.

Tak apa walau bagai debu-debu yang berterbangan, selama kita terombang-ambing bersama.

Hingga sorot mentari senja tak lagi tampak di balik jendela.

Bandar Lampung, 14 Oktober 2020

Untuk Noury, selamat datang di usia tiga puluh.

– suamimu yang kurang romantis

Sumber foto sampul: Photo by Steve Halama on Unsplash

#9 – Rintik Kibor di Malam Hari

Dahulu kala, seorang Sufi pernah diminta oleh Sultan Persia untuk membuat sebuah kutipan bijak yang bisa mencakup seluruh aspek dari kehidupan. Sebuah Maha-kutipan yang bisa dan cocok untuk digunakan dalam setiap situasi.

Sufi itu berpikir cukup lama, kemudian berkata; “īn nīz bogzarad.”

Kutipan itu kemudian pada abad ke 19 dibawa ke dunia modern oleh pujangga Edward FitzGerald, (juga Abraham Lincoln) dan hingga saat ini populer. Kutipan itu adalah; “and this too, shall pass away”, atau versi singkatnya, “This too shall pass.”

Continue reading “#9 – Rintik Kibor di Malam Hari”

Pentolers – Sembilan Tahun Kemudian

Tadi malam, masih dalam rangka merapikan blog. Saya kembali membaca serial yang dibuat buat pada masa awal notes masih happening di Facebook. Catatan-catatan yang kemudian saya post ulang di blog ini beberapa waktu setelahnya.

Catatan-catatan tersebut sebagian besar menceritakan tentang keseharian saya bersama kawan-kawan satu kost pada masa awal kuliah. di sebuah kost-kostan milik Pak Pentol yang terletak di gang Kalimongso, Bintaro.

Persahabatan yang kala itu tak ada dari kami yang mengira, akan berjalan begitu lama dan mengakar begitu kuat. Sampai detik ini.

Continue reading “Pentolers – Sembilan Tahun Kemudian”

Persona

Seorang pria berjalan dengan santai di sepanjang jalan setapak yang terbuat dari batu kali yang sudah kusam, menuju ke sebuah taman. Wajahnya tirus, tulang pipi dan dagunya menonjol dengan jelas. Kulitnya sedikit pucat. Di bawah kelopak matanya ada sebuah kantung berwarna kehitaman. Kantung itu bergerak naik turun seiring dengan kedipan matanya. Rambutnya panjang, terlihat sedikit basah seperti baru dibilas, pun dengan kumis dan janggutnya, terpotong dengan rapi.

Senyum merekah selalu terlihat di bibirnya.

Continue reading “Persona”

Takdir

Apa kalian meyakini adanya sebuah benang tak kasat mata yang menjalar, terpilin dan saling terhubung satu sama lain? Bagai seutas tali yang menghubungkan alam semesta, antar galaksi, antar bintang, antar planet, antar samudera, antar benua, antar spesies, antar individu, antar organ, antar jaringan, antar setiap sel dan bulir atom yang membentuk kehidupan?

Continue reading “Takdir”

Something About Married

Hei~ho~

pagi semua.. kali ini saya mau share sedikit soal yang namanya pernikahan nih 😀
well, sebenernya hal ini bukan cuma dialamin sama yang nikah sih, tapi berhubung hari minggu kemarin om saya baru nikah, jadi momentumnya pas. hehe

Continue reading “Something About Married”

Perjalanan

Kita hidup dalam sebuah perjalanan.
Sebuah alur panjang dengan berbagai cabang, bermacam liku dan jalan buntu. Kita memulai semuanya dari merangkak dalam gelap. Mengerjap, mencari sosok cahaya yang selalu hilang dalam sekejap. Kita menanti, terlelap dan merasa sepi. lalu tanpa kita sadari cahaya itu menuntun kita berdiri, memandu kita menuju tempat yang sama sekali baru.

Kita terpaku.
Dihadapan kita terhampar jalan berliku, menembus gunung berbatu dan memanjang membelah cakrawala biru. sebagian jalan itu terpoles oleh pualam, namun sebagian lagi dipenuhi paku.

Kita tersentak.
Banyak dari kita yang melangkah dengan ragu. sebagian bahkan tak ingin maju. tapi kita yang sarat akan rasa ingin tahu melangkah dengan mantap. dengan mata terbuka kita menatap, mengucapkan nama-nama benda di pinggir jalan walaupun dengan tergagap. lalu kita belajar untuk berucap.

Seiring dengan berjalannya waktu, kita dihadapkan pada masalah baru. Kita berada di persimpangan. Kita menatap kesemua jalan. mencoba untuk membuat pilihan. Kesemua cabang nampak menggairahkan, menjanjikan petualangan yang tak terbayangkan. membuat kita kebingungan. Lalu kita belajar untuk membuat keputusan.

Kita bersedih.
Kita kehilangan sebagian teman karena berbeda jalan. karena masing-masing mempunyai pilihan, sebagian memilih daratan, sebagian lainnya memilih lautan.

Kita berpisah.
Meninggalkan hanya sebuah kenangan dalam angan. Kita masih harus berjalan. namun seiring dengan tumbuhnya rerumputan dan dedaunan di pinggir jalan, kita menjadi terbiasa dengan pilihan. kita telah berkali-kali melewati percabangan. Kita telah belajar untuk memaknai kehilangan. lalu kita belajar untuk melupakan.

kita mulai ketakutan.
jalan di depan semakin terjal. Bahaya dan aral saling menjejal. Silih berganti membuat kita hampir mati. Sebagian dari kita yang tak mampu dan mulai menangis sendu, menyesali pilihan jalannya yang ternyata sulit untuk dilalui. Sebagian dari kita memutuskan untuk berhenti, sebagian lainnya berbalik arah untuk berlari. tapi sebagian dari kita masih tegap berdiri. memberi senyum pada setiap singa yang mengaum, melempar tawa pada setiap mara bahaya. Walau sebagian dari kita merasa kesepian, tapi tak apalah karena kita masih memiliki tujuan, dan kita juga masih setia ditemani oleh sang rembulan. kita telah belajar tentang ketabahan dan keikhlasan.

kita mulai melambat.
derap langkah kita melemah seiring dengan degup jantung kita yang mulai lelah. kita mulai bosan berjalan, kita mulai mempertanyakan apa yang ada diujung jalan? apa yang ada dibalik mentari yang tengah terbenam? sebagian dari kita menyerah, tak lagi menginginkan apa yang ada di ujung rindu. sebagian dari kita telah kalah. tapi sebagian lagi tidak.

kita berjalan dengan tertatih.
dengan langkah ringkih dan kaki yang mulai perih, mata kita menatap rindu pada cakrawala biru. kita berharap akan segera melihat sebuah tempat yang sama sekali baru. dimana jalanan tak lagi terbuat dari batu mapun paku.. tapi sulaman permadani bertahtakan permata. dan setiap sudutnya terdapat bidadari yang menyanyikan lagu..

kita termangu.
akhir perjalanan segera tiba. satu langkah terakhir.. dalam satu langkah kita akan tiba di ujung rindu. kita memandang syahdu. dihadapan kita terbentang pemandangan yang luar biasa, yang tak terlukiskan bahkan oleh kata-kata seorang pujangga. kita tahu, kita yakin, inilah tujuan kita.

kita memandang kebelakang.
menoleh dan bergumam, mengingat semua hal yang kita alami dan pelajari. mengenang semua hal yang datang dan pergi silih berganti.

kita tersenyum.

“yah.. setidaknya kita telah berusaha.” dan sekali lagi kita melangkah kedalam buaian cahaya. kali ini untuk beristirahat.

terinspirasi dari notes facebook seorang teman.

– Bintaro 28 September 2010
error: maaf, konten web ini telah dilindungi