#10 – Open In Case of Emergency

Februari lalu ketika Ashraf Sinclair (suami Bunga Citra Lestari) meninggal, lingkungan pertemanan saya seperti kena setrum. Ada kesadaran kolektif yang muncul serentak. Bukan karena kami penikmat gosip, tapi kami menyadari dia masih muda, juga terkenal berbadan fit dan rajin berolahraga.

Selama beberapa hari setelahnya sering muncul diskusi seputar kesehatan di grup-grup WhatsApp. Diselingi dengan chat dari agen-agen asuransi kesehatan dan asuransi jiwa yang mengambil momentum untuk menawarkan produk mereka.

Diskusi serupa juga saya dan Noury lakukan.

Continue reading “#10 – Open In Case of Emergency”

Untuk Ayah

Terlalu cepat..
jika boleh aku katakan, Engkau renggut takdir yang terjalin diantara kami. Pria gagah yang dulu kubanggakan, kini tinggal kenangan.

Terlalu cepat..
jika boleh aku sayangkan, Engkau buat dia meninggalkan kami semua. Pria bijaksana yang dulu kujadikan panutan, kini tinggal dalam angan.

Ayah, masih banyak yang belum sempat kubuktikan, apalagi kuberikan. membalas kasih sayangmu pun rasanya belum tuntas aku laksanakan.. masih jauh jalanku untuk jadi anak yang bisa kau banggakan.. tapi rupanya semua itu takkan pernah sempat kutunjukan.

Ayah, masih banyak yang belum aku katakan, setumpuk persoalan yang belum sempat kita diskusikan. juga belum sempat kuucapkan, betapa aku, ibu, kami semua menyayangimu sepenuh hati.

Lihatlah aku ayah..

lihat aku yang sekuat tenaga menahan perih dan getir, bersusah payah mengunci tangis dalam sanubari. lihatlah aku yang berusaha tegar untuk dirimu..

lihat ibu yang sedang menangis sendu, wanita yang cintanya tak pernah habis untukmu. kekasih hati yang senantiasa menemanimu.. lihatlah bagaimana sekarang dia tertunduk lesu..

Kepada siapa sekarang aku harus mengadu..
langkah siapa yang harus aku tiru..

aku tak tau..

Tabahkanlah hati ibu oh Tuhan.. jangan biarkan kesedihan terus mewarnai harinya kelak, Karena kami tau Engkau Maha Pengasih.. karna kami yakin Engkau Maha Penyayang.

Kuatkanlah hati kami mulai saat ini Ya Tuhan, bulatkan tekad kami, kuatkan iman kami.. karna kami semua tau, Setiap yang berasal dariMu akan kembali lagi padaMu.. Karna Engkau Maha Adil

Mudahkanlah jalan kami, jadikan cobaan ini tambalan bagi iman kami.. karna Engkau Maha Tahu, apa-apa yang terbaik bagi kami..

Biarkan kami semua berkumpul kembali kelak, dalam dekapan cahaya surga.. kali ini untuk selamanya.

Untuk sahabat saya, Dona dan Doni, serta keluarganya besarnya.
Allah tau yang terbaik, Allah tau yang terbaik.

Bandung, 27 November 2010

Perjalanan

Kita hidup dalam sebuah perjalanan.
Sebuah alur panjang dengan berbagai cabang, bermacam liku dan jalan buntu. Kita memulai semuanya dari merangkak dalam gelap. Mengerjap, mencari sosok cahaya yang selalu hilang dalam sekejap. Kita menanti, terlelap dan merasa sepi. lalu tanpa kita sadari cahaya itu menuntun kita berdiri, memandu kita menuju tempat yang sama sekali baru.

Kita terpaku.
Dihadapan kita terhampar jalan berliku, menembus gunung berbatu dan memanjang membelah cakrawala biru. sebagian jalan itu terpoles oleh pualam, namun sebagian lagi dipenuhi paku.

Kita tersentak.
Banyak dari kita yang melangkah dengan ragu. sebagian bahkan tak ingin maju. tapi kita yang sarat akan rasa ingin tahu melangkah dengan mantap. dengan mata terbuka kita menatap, mengucapkan nama-nama benda di pinggir jalan walaupun dengan tergagap. lalu kita belajar untuk berucap.

Seiring dengan berjalannya waktu, kita dihadapkan pada masalah baru. Kita berada di persimpangan. Kita menatap kesemua jalan. mencoba untuk membuat pilihan. Kesemua cabang nampak menggairahkan, menjanjikan petualangan yang tak terbayangkan. membuat kita kebingungan. Lalu kita belajar untuk membuat keputusan.

Kita bersedih.
Kita kehilangan sebagian teman karena berbeda jalan. karena masing-masing mempunyai pilihan, sebagian memilih daratan, sebagian lainnya memilih lautan.

Kita berpisah.
Meninggalkan hanya sebuah kenangan dalam angan. Kita masih harus berjalan. namun seiring dengan tumbuhnya rerumputan dan dedaunan di pinggir jalan, kita menjadi terbiasa dengan pilihan. kita telah berkali-kali melewati percabangan. Kita telah belajar untuk memaknai kehilangan. lalu kita belajar untuk melupakan.

kita mulai ketakutan.
jalan di depan semakin terjal. Bahaya dan aral saling menjejal. Silih berganti membuat kita hampir mati. Sebagian dari kita yang tak mampu dan mulai menangis sendu, menyesali pilihan jalannya yang ternyata sulit untuk dilalui. Sebagian dari kita memutuskan untuk berhenti, sebagian lainnya berbalik arah untuk berlari. tapi sebagian dari kita masih tegap berdiri. memberi senyum pada setiap singa yang mengaum, melempar tawa pada setiap mara bahaya. Walau sebagian dari kita merasa kesepian, tapi tak apalah karena kita masih memiliki tujuan, dan kita juga masih setia ditemani oleh sang rembulan. kita telah belajar tentang ketabahan dan keikhlasan.

kita mulai melambat.
derap langkah kita melemah seiring dengan degup jantung kita yang mulai lelah. kita mulai bosan berjalan, kita mulai mempertanyakan apa yang ada diujung jalan? apa yang ada dibalik mentari yang tengah terbenam? sebagian dari kita menyerah, tak lagi menginginkan apa yang ada di ujung rindu. sebagian dari kita telah kalah. tapi sebagian lagi tidak.

kita berjalan dengan tertatih.
dengan langkah ringkih dan kaki yang mulai perih, mata kita menatap rindu pada cakrawala biru. kita berharap akan segera melihat sebuah tempat yang sama sekali baru. dimana jalanan tak lagi terbuat dari batu mapun paku.. tapi sulaman permadani bertahtakan permata. dan setiap sudutnya terdapat bidadari yang menyanyikan lagu..

kita termangu.
akhir perjalanan segera tiba. satu langkah terakhir.. dalam satu langkah kita akan tiba di ujung rindu. kita memandang syahdu. dihadapan kita terbentang pemandangan yang luar biasa, yang tak terlukiskan bahkan oleh kata-kata seorang pujangga. kita tahu, kita yakin, inilah tujuan kita.

kita memandang kebelakang.
menoleh dan bergumam, mengingat semua hal yang kita alami dan pelajari. mengenang semua hal yang datang dan pergi silih berganti.

kita tersenyum.

“yah.. setidaknya kita telah berusaha.” dan sekali lagi kita melangkah kedalam buaian cahaya. kali ini untuk beristirahat.

terinspirasi dari notes facebook seorang teman.

– Bintaro 28 September 2010
error: maaf, konten web ini telah dilindungi