#15 – Catatan

Pernahkah kalian membuat jurnal/diary/catatan harian? Saat ini mungkin sudah cukup ketinggalan zaman, ya? Perannyapun sudah diambil alih oleh platform blog seperti wordpress dan blogspot serta microblogging seperti twitter.

Namun siap menulis di dalam platform online artinya kita siap membagikan pemikiran kita kepada seluruh dunia, (atau kepada circle terdekat kita, tergatung setelan privasi yang kita pilih). Artinya juga kemungkinan besar akan ada feedback berupa dukungan ataupun bantahan. Ada yang tersanjung ataupun tersinggung. Ada yang mengerti, tapi tak sedikit pula yang menyalaharti.

Jika kita menyadari adanya implikasi itu, tentunya akan ada proses bernalar yang cukup panjang sebelum akhirnya kita mempublikasikan tulisan kita. Bukan tidak mungkin kita malah jadi merasa ragu dan merasa buah pemikiran kita tak cukup penting dan berbobot untuk dipublikasikan. Kita juga mungkin merasa minder dan malu karena kosakata kita yang terbatas dan ejaan kita yang sering gawal.

Pada akhirnya, bisa saja semua proses bernalar itu membuat tulisan kita tak lagi menjadi tulisan yang jujur. Setidaknya tak jujur untuk diri kita sendiri.

Continue reading “#15 – Catatan”

#11 – Taman Bacaan Kirana: Sebuah Retrospeksi Safe Place

This is the place

Sit down, you’re safe now

Lift – Radiohead

Pertama kali mendengar Thom Yorke menyanyikan dua bait awal lagu Lift, saya langsung jatuh cinta.

Ada makna mendalam dibalik dua bait lirik itu. Semacam mantra penenang bagi mereka yang menderita anxiety, stres dan depresi. Walaupun lirik dalam lagu itu ditujukan untuk sang vokalis, tapi tidak bisa disangkal bahwa saya sebagai pendengar juga ikut merasa sedang berada di dalam sebuah safe place.

Continue reading “#11 – Taman Bacaan Kirana: Sebuah Retrospeksi Safe Place”

Bioskop

Aku melihat kita..

Kali ini dalam putaran bisu seluloid yang berpendar. Bercahaya muram di layar kusam. Memunculkan frame demi frame kisah kita dalam balutan warna technicolor yang mulai buram.

Aku duduk disana, seperti biasa. Baris kelima dari atas, bangku nomor duabelas. Tanganku menggenggam dua buah tiket kertas. Monoton, Aku mencoba menonton bersama sebungkus pop corn.

Ah! Itu kita..

Betapa kita masih belia dan belum dewasa. Betapa kita nyaman berjalan dalam senyuman. Betapa kita gembira berbicara dalam gelak tawa. Betapa kita hidup bahagia dalam bersama.

Aku tersipu.. Merasa malu. Dalam gambar itu hanya ada kita berdua, suka cita

Dan saat ini adalah aku yang duduk di bangku itu,yang datang secara rutin untuk menontonnya, menikmatinya, mengenangnya..

Tapi seperti biasanya, hanya aku sendirian disini, kau tak pernah datang menonton.

Bintaro, 21 September 2011