[Fiksi] – Bangku Kosong

Pada hari itu, Romi memutuskan untuk pulang lebih awal. Kepalanya pening seperti mau pecah. Walau begitu, dia tidak ingin ke dokter, dia hanya ingin merebahkan diri di kasurnya yang empuk.

Ketika dia melangkahkan kaki keluar dari pintu depan kantor, jam di tangannya baru menunjukkan pukul setengah lima sore.

Dia menyusuri trotoar di sepanjang jalan besar, menuju ke halte bus tempat dia biasa naik.  Bagi Romi yang setiap hari selalu pulang kerja larut malam, pemandangan sore hari malah terasa amat ganjil.

Continue reading “[Fiksi] – Bangku Kosong”

[Fiksi] – Getihwesi (III)

Mimpi tentang kakaknya selalu dimulai dengan pemandangan yang sama. Gunung Vesuvius meletus; menggelegar, melahap seluruh penduduk kota Pompeii. Sementara dia dan kakaknya melayang di angkasa, memerhatikan semua itu dari kejauhan. Teriakan putus asa dan rintih kesakitan memekakan telinganya. Udara terasa pengap dan panas. Langit di atasnya merah, dan daratan di bawah membara. Pada titik ini kakaknya akan menoleh dan tersenyum.

Semua hal yang diberikan bisa diambil lagi, ingat itu, bisik kakaknya lirih.

Biasanya mimpinya akan berakhir di situ. Tapi kali ini tidak, Astri bisa merasakan bau mayat-mayat yang terbakar, serta bangunan-bangunan dan bebatuan yang meleleh. Dia bisa mencium dengan jelas,

bau amis darah dan besi memenuhi udara …

Continue reading “[Fiksi] – Getihwesi (III)”

[Fiksi] – Getihwesi (I)

“Seharusnya kita sudah dekat,” ujar Rendy. Dia menggaruk kepalanya sambil membolak-balik selembar peta lecek di atas kepalanya. Astri mengangguk pasrah, dia sudah terlalu lelah untuk protes ataupun sekadar meladeni perkataan Rendy. Yanti yang sedari tadi duduk di atas batu juga hanya terdiam. Nafasnya terengah-engah. Kaus dan kardigan cokelat yang dia kenakan tampak basah oleh keringat.

Setelah beristirahat untuk minum selama lima menit, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Ketiganya berjalan beriringan, menapaki rumput, ilalang tinggi dan pepohonan besar yang menutup langit di atas mereka dengan rapat.

Rendy yang berjalan paling depan dengan sigap mengayunkan belati yang dibawanya untuk membuka jalan. Sementara Astri dan Yanti melihat ke sekeliling, mencari tanda-tanda keberadaan manusia di tengah belantara ini.

Sekitar satu setengah jam kemudian mereka akhirnya menemukan sebuah jalan setapak kecil yang sepertinya sering dilewati oleh manusia. Rendy dan Yanti kompak berseru girang.

Mereka mulai berjalan dengan lebih cepat. Seiring dengan pemandangan hutan yang mulai berubah menjadi ladang-ladang, mereka mulai mencium bebauan yang aneh.

“Ini …, bau belerang?” tanya Yanti sambil menutup hidung.

Astri menggeleng, “Ini bau besi,” ujarnya. “Lihat, kita sudah dekat,” lanjutnya sambil menunjuk ke lereng gunung berapi yang mulai terlihat di depan mereka.

“Getihwesi,” ujar Rendy sambil menelan ludah.

Continue reading “[Fiksi] – Getihwesi (I)”

[Fiksi] – Rumah Pesirkus

“Yakin rumahnya yang ini?” tanya Sisca. Danu mengangguk singkat, sambil memarkirkan mobilnya di halaman depan. Setelah mematikan mesin dia keluar dari dalam mobil, lalu melihat ke sekeliling. Rumah itu tampak berantakan. Ilalang tumbuh subur di setiap sudut taman. Debu dan sampah menumpuk di sana sini.

“Seingatku dulu rumahnya tak sebobrok ini,” gumam Danu. Dia merasa udara di sekitarnya berat karena bau apek yang menyeruak dari dalam rumah. “Kamu nyium bau apek, ga?”

“Kayaknya dari dalam rumah. Kapan terakhir kali rumah ini ditempati?” jawab Sisca sambil menutup hidung.

“Paman meninggal lima tahun yang lalu. Sejak itu rumah ini nggak pernah ditempati lagi.”

Continue reading “[Fiksi] – Rumah Pesirkus”

[Fiksi] – Perut yang Berbisik

Suatu malam, seorang wanita mendatangi klinik dokter Gerry. Wanita itu mengeluhkan bahwa perutnya belakangan ini sering berbisik dan menyuruhnya untuk makan berbagai benda.

Wanita itu mengenakan daster abu-abu bergaris. Menurutku dia cukup cantik. Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Kulitnya putih, tapi cenderung pucat.

Continue reading “[Fiksi] – Perut yang Berbisik”

[Fiksi] – Sempurna

Kesempurnaan itu langka, tetapi bukannya tidak ada. Bagi sebagian orang kesempurnaan bisa mereka temukan dalam karya-karya seni buatan manusia, bagi sebagian lainnya kesempurnaan bisa mereka temukan dalam karya-karya agung ciptaan Tuhan. Ada berbagai macam cara untuk menemukan kesempurnaan, dan semuanya sah-sah saja.

Continue reading “[Fiksi] – Sempurna”

[Fiksi] – Persona

Seorang pria berjalan dengan santai di sepanjang jalan setapak yang terbuat dari batu kali yang sudah kusam, menuju ke sebuah taman. Wajahnya tirus, tulang pipi dan dagunya menonjol dengan jelas. Kulitnya sedikit pucat. Di bawah kelopak matanya ada sebuah kantung berwarna kehitaman. Kantung itu bergerak naik turun seiring dengan kedipan matanya. Rambutnya panjang, terlihat sedikit basah seperti baru dibilas, pun dengan kumis dan janggutnya, terpotong dengan rapi.

Senyum merekah selalu terlihat di bibirnya.

Continue reading “[Fiksi] – Persona”