Rumah Pesirkus

“Yakin rumahnya yang ini?” tanya Sisca. Danu mengangguk singkat, sambil memarkirkan mobilnya di halaman depan. Setelah mematikan mesin dia keluar dari dalam mobil, lalu melihat ke sekeliling. Rumah itu tampak berantakan. Ilalang tumbuh subur di setiap sudut taman. Debu dan sampah menumpuk di sana sini.

“Seingatku dulu rumahnya tak sebobrok ini,” gumam Danu. Dia merasa udara di sekitarnya berat karena bau apek yang menyeruak dari dalam rumah. “Kamu nyium bau apek, ga?”

“Kayaknya dari dalam rumah. Kapan terakhir kali rumah ini ditempati?” jawab Sisca sambil menutup hidung.

“Paman meninggal lima tahun yang lalu. Sejak itu rumah ini nggak pernah ditempati lagi.”

Continue reading “Rumah Pesirkus”

Perut yang Berbisik

Suatu malam, seorang wanita mendatangi klinik dokter Gerry. Wanita itu mengeluhkan bahwa perutnya belakangan ini sering berbisik dan menyuruhnya untuk makan berbagai benda.

Wanita itu mengenakan daster abu-abu bergaris. Menurutku dia cukup cantik. Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Kulitnya putih, tapi cenderung pucat.

Continue reading “Perut yang Berbisik”

Sempurna

Kesempurnaan itu langka, tetapi bukannya tidak ada. Bagi sebagian orang kesempurnaan bisa mereka temukan dalam karya-karya seni buatan manusia, bagi sebagian lainnya kesempurnaan bisa mereka temukan dalam karya-karya agung ciptaan Tuhan. Ada berbagai macam cara untuk menemukan kesempurnaan, dan semuanya sah-sah saja.

Continue reading “Sempurna”

Persona

Seorang pria berjalan dengan santai di sepanjang jalan setapak yang terbuat dari batu kali yang sudah kusam, menuju ke sebuah taman. Wajahnya tirus, tulang pipi dan dagunya menonjol dengan jelas. Kulitnya sedikit pucat. Di bawah kelopak matanya ada sebuah kantung berwarna kehitaman. Kantung itu bergerak naik turun seiring dengan kedipan matanya. Rambutnya panjang, terlihat sedikit basah seperti baru dibilas, pun dengan kumis dan janggutnya, terpotong dengan rapi.

Senyum merekah selalu terlihat di bibirnya.

Continue reading “Persona”

Sang Kolektor

“Jangan ber-ge-rak..” pria itu berbisik lirih. Tangan kanannya menggenggam sebuah colt .45 yang diacungkan dengan mantap. Alisnya mengerut, ekspresi mukanya kacau, antara shock dan ngeri. Peluh mengucur deras dari dahinya, menetes ke dagunya, dan bahkan merembes ke kerah kemejanya yang kusut dan bau.

Continue reading “Sang Kolektor”
error: maaf, konten web ini telah dilindungi