#22 – Kalimongso dan Lorong-lorong Sunyi

Beberapa waktu yang lalu, pembicaraan tentang stress, anxiety, dan safe place di sekitar saya kembali terjadi. Bagai fenomena bapak-bapak berumur yang gemar membicarakan penyakit yang dimiliki satu sama lain, generasi milenial dan 90an di sekitar saya mulai gemar membicarakan tentang stress dalam pekerjaan dan keseharian mereka.

Sebagaimana diungkap dalam berbagai sumber dan penelitian, membagi masalah dan stress kepada teman adalah salah satu cara untuk mengurangi stress di dalam diri kita.

Dengan membicarakannya, berarti kita menerima kenyataan bahwa kondisi mental kita memang sedang tidak bagus. Mengakui adanya masalah adalah langkah pertama untuk mengatasi masalah itu. Dengan membicarakannya juga berarti kita bisa membangun support system satu sama lain yang bisa mengawasi dan menjauhkan diri kita dari depresi.

Namun kita memang harus pandai-pandai mencari orang yang akan kita ajak bicara. Jangan sampai satu-satunya hal yang keluar dari mulut lawan bicara kita adalah ceramah dan judgement tentang lembeknya mental dan kurangnya iman kita.

Continue reading “#22 – Kalimongso dan Lorong-lorong Sunyi”

#8 – Ambivalensi Pandemi

Bagi kehidupan saya pribadi, pandemi ini membuat perasaan dan pengalaman yang campur aduk.

Ada perasaan khawatir karena penularan virus yang bisa datang dari mana saja dan siapa saja di sekitar saya. Tapi ada juga perasaan lega karena sejauh ini di lingkungan tempat tinggal dan lingkungan kerja tidak ada kasus positif yang terkonfirmasi.

Continue reading “#8 – Ambivalensi Pandemi”