Mungkin Begitu

Mungkin manusia memang perlu sekarat. Bukan untuk mati, tetapi agar bisa mensyukuri hidup dengan hakiki.

Mungkin manusia memang perlu sering terjatuh dan menangis tersedu. Sebelum kita sadar bahwa masa lalu, sebagaimanapun asam dan kelabu, hanyalah serupa benalu. Tak lebih daripada debu yang dengan sendirinya akan tersapu saat kita memutuskan untuk melangkah maju.

Continue reading “Mungkin Begitu”

Teruntukmu

Teruntukmu.

Aku tahu takdir sedang bermain bola bersama kita.
Dia sedang menggiringmu kepadaku,
atau entah aku kepadamu.

Dia meliuk-liuk dengan indah, mengumpan 1-2, lalu melakukan backheel,
membuat kacau barisan belakangku.

Aku ragu.
Aku meragukanmu,
dan juga meragukan kemampuanku.

Aku tak tahu harus dengan formasi apa mendekatimu.
3-5-2 sudah usang, kau tak akan bisa didekati dengan cara biasa.
4-5-1 kurasa tak akan cukup kuat untuk menembus pertahanan hatimu.
tapi menggunakan 4-3-3 pun aku takut terperangkap offside.
Agresifitas berlebihan sungguh takkan membantu.

Aku selalu berharap untuk mendapatkan freekick atau cornerkick.
Bagiku itu merupakan tiket agar bisa mendekatimu lebih cepat,
dan memasuki hatimu lebih dalam.

Tapi setiap permainan selalu berakhir bukan?
Namun sungguh, aku tak mau takdir menghentikan pertandingan ini.

Tidak.
setidaknya aku mau dia menunggu sampai aku telah mengirimkan hatiku
ke gawangmu.

di antara buaian mimpi
dan liga champion.

– Bintaro, 16 Februari 2010
error: maaf, konten web ini telah dilindungi