#21 – Plan the Unplannable: How to Financially Prepare Having A Baby in Pandemic Time, and More.

Bagi kalian yang sibuk dan ingin tahu kesimpulan akhirnya; caranya dengan menabung

Otherwise, this is the complete story. 

Continue reading “#21 – Plan the Unplannable: How to Financially Prepare Having A Baby in Pandemic Time, and More.”

#20 – Days of Manic Pixie Dream

Kala pertama kali menonton film 500 Days of Summer tahun 2010 silam, saya sebagai pria merasa sangat senang dan terwakili. Visualisasi galau dan jatuh bangunnya Tom Hansen dalam mengejar Summer Fin terasa sangat personal dan sangat nyata. Termasuk bagian ending saat Summer memutuskan untuk menikah dengan pria lain yang belum lama dia kenal.

Setelah menonton itu saya berkesimpulan bahwa walaupun seorang pria sudah berupaya maksimal dan habis-habisan seperti Tom, pada akhirnya ada perempuan seperti Summer yang mengabaikannya dan memilih untuk bersama dengan orang lain.

Terkadang, secantik dan semenarik apapun perempuan, bisa jadi dia brengsek.

Continue reading “#20 – Days of Manic Pixie Dream”

#18 – Latte Factor

Teori Latte Factor dipopulerkan oleh David Bach, seorang Financial Expert berkebangsaan Amerika Serikat.

Latte Factor merujuk kepada kebiasaan sebagian orang dalam membelanjakan uang (dengan jumlah yang dirasa tak seberapa) namun secara rutin.

Continue reading “#18 – Latte Factor”

#17 – Mendefinisikan Kebahagiaan

Maret 2015, tak lama setelah batal menikah, saya pergi backpacking ke Jepang.⁣

Berbekal sebuah buku guide terbitan tahun lawas dan uang tunai seadanya, saya dan satu orang kawan menyusuri jalur darat Tokyo – Kyoto – Osaka selama kurang lebih 10 hari.⁣

Continue reading “#17 – Mendefinisikan Kebahagiaan”

#16 – Tentang sipenulis.com

Tahun 2010an, jika kita googling dengan kata kunci “komunitas menulis” atau “komutas penulis” ada kemungkinan kita akan menemukan forum sindikat penulis di laman pertama.

Forum Sindikat Penulis dibuat pada tahun 2009 untuk kemudian ditinggalkan begitu saja oleh si empunya. Orang itu tidak menyadari bahwa dengan senyap dan perlahan forum itu menjadi semakin ramai. Saya sendiri bergabung dengan forum itu pada tahun 2011.

avatar si pencipta forum: konon dia bisa tidur di mana saja, bahkan saat mengendari motor

Di sana saya kebetulan berkenalan dengan si pembuat forum yang ternyata tiba-tiba muncul kembali. Dia menyebut dirinya sebagai tukangtidur. Di luar sana, dia lebih dikenal sebagai Noor H. Dee, seorang cerpenis sureal dan salah satu editor buku anak tersohor di Indonesia.

Tak pernah saya sangka perkenalan di forum itu adalah sebuah awal dari persahabatan dua pria dengan beda usia cukup jauh, yang saat ini telah berlangsung hampir satu dekade lamanya.

Continue reading “#16 – Tentang sipenulis.com”

#15 – Catatan

Pernahkah kalian membuat jurnal/diary/catatan harian? Saat ini mungkin sudah cukup ketinggalan zaman, ya? Perannyapun sudah diambil alih oleh platform blog seperti wordpress dan blogspot serta microblogging seperti twitter.

Namun siap menulis di dalam platform online artinya kita siap membagikan pemikiran kita kepada seluruh dunia, (atau kepada circle terdekat kita, tergatung setelan privasi yang kita pilih). Artinya juga kemungkinan besar akan ada feedback berupa dukungan ataupun bantahan. Ada yang tersanjung ataupun tersinggung. Ada yang mengerti, tapi tak sedikit pula yang menyalaharti.

Jika kita menyadari adanya implikasi itu, tentunya akan ada proses bernalar yang cukup panjang sebelum akhirnya kita mempublikasikan tulisan kita. Bukan tidak mungkin kita malah jadi merasa ragu dan merasa buah pemikiran kita tak cukup penting dan berbobot untuk dipublikasikan. Kita juga mungkin merasa minder dan malu karena kosakata kita yang terbatas dan ejaan kita yang sering gawal.

Pada akhirnya, bisa saja semua proses bernalar itu membuat tulisan kita tak lagi menjadi tulisan yang jujur. Setidaknya tak jujur untuk diri kita sendiri.

Continue reading “#15 – Catatan”

#14 – Empty House

Tahun 2008, saat pindah ke Bintaro untuk melanjutkan sekolah, saya baru menyadari bahwa selama empat belas tahun sebelumnya saya tinggal di rumah yang terletak di sebuah jalan dengan nama yang ternyata cukup nyeleneh; Jalan Burujul.

Continue reading “#14 – Empty House”

#13 – Random Things About Pokémon

Saat masih SD saya rutin mengaji di masjid dari mulai magrib sampai isya. Saya dan beberapa anak seusia lainnya akan duduk berbaris, kemudian bergantian membaca Al-Quran sambil dikoreksi oleh guru ngaji. Di sela-sela menunggu antrian, kami biasanya mengobrol dan bercanda. Topik yang kala itu sering diobrolkan tak jauh dari game-game yang biasa kami mainkan sepulang sekolah di rental PS.

Suatu hari seorang teman mengaji datang dengan membawa sebuah gimbot ke masjid.

Well, saya pernah punya gimbot dan tahu seperti luar dalamnya, tapi gimbot yang dibawa anak itu berbeda. Setelah diperhatikan baik-baik, gimbot itu ternyata adalah sebuah Gameboy Color.

Continue reading “#13 – Random Things About Pokémon”

#12 – 10102020

Sepuluh tahun yang lalu saya menginjak usia dua puluh tahun. Usia masa transisi dari ABG ke akang-akang. Waktu itu saya menyangka bahwa dengan berubahnya angka depan usia saya dari “1” menjadi “2” (kita sebut saja versi), saya akan tiba-tiba mendapat hidayah dari langit, lalu berubah menjadi orang yang kalem, dewasa, dan bijaksana.

Continue reading “#12 – 10102020”

#11 – Taman Bacaan Kirana: Sebuah Retrospeksi Safe Place

This is the place

Sit down, you’re safe now

Lift – Radiohead

Pertama kali mendengar Thom Yorke menyanyikan dua bait awal lagu Lift, saya langsung jatuh cinta.

Ada makna mendalam dibalik dua bait lirik itu. Semacam mantra penenang bagi mereka yang menderita anxiety, stres dan depresi. Walaupun lirik dalam lagu itu ditujukan untuk sang vokalis, tapi tidak bisa disangkal bahwa saya sebagai pendengar juga ikut merasa sedang berada di dalam sebuah safe place.

Continue reading “#11 – Taman Bacaan Kirana: Sebuah Retrospeksi Safe Place”