Forget to Remember

Kadang memang membingungkan.

Saat hati lebih memilih untuk dibohongi angan daripada menerima kenyataan,

dan nurani lebih suka menikmati pahitnya menunggu daripada kembali berjalan maju.

Ada lebih dari satu juta dua ratus empat puluh tujuh frasa yang bisa kugunakan untuk berargumentasi dengan sanubari ini, mencoba merasionalisasi tiap senti rindu yang tak tertuju, menakar tiap gram patahan hati yang tak bertepi.

Tapi toh semuanya terpental oleh satu kata, lima aksara berdaya magis, dengan makna acak yang tak jua bisa terkodifikasikan bahasa manusia.

rindu.

Hey, kapan aku bisa lupa untuk mengingatmu?

Bandung, 1 September 2012

Bioskop

Aku melihat kita..

Kali ini dalam putaran bisu seluloid yang berpendar. Bercahaya muram di layar kusam. Memunculkan frame demi frame kisah kita dalam balutan warna technicolor yang mulai buram.

Aku duduk disana, seperti biasa. Baris kelima dari atas, bangku nomor duabelas. Tanganku menggenggam dua buah tiket kertas. Monoton, Aku mencoba menonton bersama sebungkus pop corn.

Ah! Itu kita..

Betapa kita masih belia dan belum dewasa. Betapa kita nyaman berjalan dalam senyuman. Betapa kita gembira berbicara dalam gelak tawa. Betapa kita hidup bahagia dalam bersama.

Aku tersipu.. Merasa malu. Dalam gambar itu hanya ada kita berdua, suka cita

Dan saat ini adalah aku yang duduk di bangku itu,yang datang secara rutin untuk menontonnya, menikmatinya, mengenangnya..

Tapi seperti biasanya, hanya aku sendirian disini, kau tak pernah datang menonton.

Bintaro, 21 September 2011

Cangkir

 

Memandangi sebuah cangkir biru,

Cangkir yang sekarang berwarna kelabu dan berdebu.
Cangkir yang dulu kau berikan kepadaku.
Cangkir plastik dengan pegangan cantik.

“Aquarius,” katamu.

“Simpan selalu, agar kau ingat padaku,” katamu lagi.

Ah, seandainya dulu aku yang boleh memilih.

Bolehkah kupilih hatimu saja daripada cangkir itu?

Memang warnanya merah jambu, sama sekali bukan seleraku.
Memang bahannya bukan dari plastik, akan retak jika tak kujaga dengan baik.
Memang tak memiliki pegangan cantik, sehingga sangat mudah untuk terbalik

Tapi toh itu mauku.
agar kau tak beranjak pergi, agar kau tetap disini.

tapi ternyata kau lebih memilih untuk memberikan cangkir itu,

daripada hatimu.

Bintaro, 3 April 2011

Sebuah Refleksi

selaksa sayap menghempas bergerak
melayang raga terbaring diangkasa
kuhantar serta denting hati yang melantun sepihak
dalam rinainya melodi kerinduan yang kurasa

kutatap dalam semu
Eksistensi quasi sgala rasa diri
dalam kalbu ia beradu

apakah semua ini benar terjadi?
hati tak lagi bisa membeda rindu dan benci
tak bisa lagi memilah kapan harus melangkah
maupun kapan harus berpasrah..

Pada akhirnya,

kuas detik yang melukis waktu
tak hentinya memenuhi kanvas dengan warna baru
membuat berbagai bentuk harapan
dan juga keputusasaan

namun kau masih tetap membisu
dan aku masih terus menunggu..

– Bintaro, 30 Mei 2010

Picisan

Apa yang harus kulakukan?

Haruskah kusambut pagi yang kan datang,
menjelang bersama dengan datangnya terang
lalu merekah bersama riuh rendah ayam yang berkumandang?

Ataukah harus kuratapi malam yang segera kan berganti?
yang masih setia menyelimuti,
walaupun akan segera mati.

Aku ingin tetap duduk dalam sepi
dalam balutan bintang dan dekapan rembulan
Aku kesepian, tapi setidaknya aku merasa nyaman.

Haruskah kurelakan?

Aku terlentang pada saat pagi datang
menatapnya membawa serta matahari dan awan,
kicau burung dan juga harapan.
diapun menjanjikan masa depan.

Tapi bagaimana jika suatu saat aku merindukan malam?
sedang saat itu mentari sedang duduk manis diatas awan..

Jika malam adalah rasaku padamu,
dan pagi adalah rasaku padanya,

Apa yang harus kulakukan??

– Bintaro, 17 Mei 2010

error: maaf, konten web ini telah dilindungi