#15 – Catatan

Pernahkah kalian membuat jurnal/diary/catatan harian? Saat ini mungkin sudah cukup ketinggalan zaman, ya? Perannyapun sudah diambil alih oleh platform blog seperti wordpress dan blogspot serta microblogging seperti twitter.

Namun siap menulis di dalam platform online artinya kita siap membagikan pemikiran kita kepada seluruh dunia, (atau kepada circle terdekat kita, tergatung setelan privasi yang kita pilih). Artinya juga kemungkinan besar akan ada feedback berupa dukungan ataupun bantahan. Ada yang tersanjung ataupun tersinggung. Ada yang mengerti, tapi tak sedikit pula yang menyalaharti.

Jika kita menyadari adanya implikasi itu, tentunya akan ada proses bernalar yang cukup panjang sebelum akhirnya kita mempublikasikan tulisan kita. Bukan tidak mungkin kita malah jadi merasa ragu dan merasa buah pemikiran kita tak cukup penting dan berbobot untuk dipublikasikan. Kita juga mungkin merasa minder dan malu karena kosakata kita yang terbatas dan ejaan kita yang sering gawal.

Pada akhirnya, bisa saja semua proses bernalar itu membuat tulisan kita tak lagi menjadi tulisan yang jujur. Setidaknya tak jujur untuk diri kita sendiri.

Continue reading “#15 – Catatan”

#9 – Rintik Kibor di Malam Hari

Dahulu kala, seorang Sufi pernah diminta oleh Sultan Persia untuk membuat sebuah kutipan bijak yang bisa mencakup seluruh aspek dari kehidupan. Sebuah Maha-kutipan yang bisa dan cocok untuk digunakan dalam setiap situasi.

Sufi itu berpikir cukup lama, kemudian berkata; “īn nīz bogzarad.”

Kutipan itu kemudian pada abad ke 19 dibawa ke dunia modern oleh pujangga Edward FitzGerald, (juga Abraham Lincoln) dan hingga saat ini populer. Kutipan itu adalah; “and this too, shall pass away”, atau versi singkatnya, “This too shall pass.”

Continue reading “#9 – Rintik Kibor di Malam Hari”