Apa kalian meyakini adanya sebuah benang tak kasat mata yang menjalar, terpilin dan saling terhubung satu sama lain? Bagai seutas tali yang menghubungkan alam semesta, antar galaksi, antar bintang, antar planet, antar samudera, antar benua, antar spesies, antar individu, antar organ, antar jaringan, antar setiap sel dan bulir atom yang membentuk kehidupan?

Aku percaya.

Aku percaya bahwa tak ada satupun hal yang terjadi di alam semesta ini; bahkan sehelai daun yang meranggas maupun setitik debu yang tersapu, terjadi begitu saja tanpa ada tujuan tertentu.

Aku percaya bahwa sebuah momen singkat, sebuah fragmen sepersekian detik yang tampak tidak berarti bagi orang kebanyakan bisa jadi adalah sebuah katalis yang bisa mengubah konstelasi alam semesta.

Tidak mudah melihatnya. Tapi takdir selalu berbaik hati kepada kita. Tanpa mengenal lelah dia selalu memberikan isyarat-isyarat saat terjadi hal yang penting dalam kehidupan kita. Saat roda penggerak kehidupan mulai berputar dari satu titik ke titik yang lain, takdir selalu memberikan tanda.

Yang harus kita lakukan hanyalah melihat pertandanya.

Aku pertama kali bertemu dengan Andini di perpustakaan kota. Di sebuah ruangan oval beratap tinggi yang berisi ratusan buku tua dan berdebu. Hari itu jemariku sedang asyik menyisir satu persatu buku dari rak filsafat yang berada di bagian barat bangunan.

Dengan perlahan kuseka debu yang menggunung di atas buku-buku tersebut menggunakan ujung telunjuk. Partikel-partikel debu yang halus terlihat berterbangan di udara, menari-nari diantara tembusan cahaya matahari yang menerobos masuk dari celah jendela di bagian atas ruangan.

Aku bisa mencium bau kadaluarsa buku-buku itu dari jarak beberapa meter. Banyak diantara buku yang dipajang di rak-rak ini usianya sudah puluhan tahun, dan lebih banyak lagi yang sepertinya lebih tua daripada orangtuaku.

Aneh memang. Bau apek yang biasanya membuat orang lain gatal dan bersin-bersin itu malah membuatku merasa nyaman. Bau apek buku membuatku rileks dan melayang, seperti layaknya candu yang merongrog rongga hidungku, meresap masuk hingga naik ke ubun-ubun kepala.

Saat sedang menikmati sensasi melayang itulah tiba-tiba aku mendengar gaduh suara celotehan.

Awalnya suara gaduh itu tak kupedulikan. Mataku sedang fokus menjamah satu persatu buku dari Nietzsche, Dante, Descrates dan Machiavelli yang tersusun rapi di sepanjang rak. Otakku sedang was-was dan bersiap menanti hal gila apa yang bisa mereka berikan kepadaku saat menjelajahi paragraf-paragraf yang mereka tulis.

Celotehan itu terdengar lagi, makin keras.

Kali ini aku terpaksa peduli, suara celotehan itu telah membuyarkan konsentrasiku.

Aku menengok, mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Ruangan itu nyaris kosong, hanya ada satu dua orang pecandu buku yang sejenis denganku sedang berada di sana, berdiri diantara lorong-lorong dan rak-rak kayu jati. Mereka dengan khidmat menyesap saripati dari kumpulan aksara yang mereka baca. Tidak, pastinya bukan mereka yang bersuara.

Aku kembali mencari, seharusnya tidak sulit mencari asal suara berisik di tempat sepi seperti ini.

Tidak jauh dari tempatku berdiri saat ini, agak tersembunyi dibalik sofa butut dan tumpukan buku tua yang menggunung, duduklah sekumpulan gadis yang sedang mengobrol. Aku menghitung jumlah mereka ada lima orang. Kelihatannya mereka masih pelajar sekolah.

Kuperhatikan wajah mereka satu-persatu, sambil berharap tatapan mataku sudah cukup untuk membuat mereka sadar dan berhenti mengobrol. Syukur-syukur jika mereka merasa malu dan memutuskan untuk keluar. Kehadiran mereka berlima tampak terlalu kontras di dalam ruangan suram dan sepi ini.

Pandanganku tiba-tiba terkunci pada seorang gadis yang kini terlihat sedang berbicara. Gadis itu mengenakan kacamata, rambutnya yang hitam dan lurus dibiarkan tergerai, sebahu panjangnya.

Dia berbicara dengan halus. Kedua tangannya senantiasa bergerak dengan lembut, memvisualisasikan apa yang sedang dia bicarakan.

Saat gadis itu tersenyum aku bisa melihat deretan gigi kelincinya yang putih dan tersusun rapi, seperti barisan pagar yang baru saja selesai di cat.

Aku ingin berpaling, tapi leherku terasa kaku, dan mataku ternyata telah kehilangan kemampuannya untuk berkedip. Pada saat itulah kedua bola mataku tiba-tiba beradu dengan kedua bola matanya. Gadis itu menatap balik ke arahku.

Aku terkesiap, jantungku seakan berhenti berdetak.

Aku berani bersumpah, jika surga memang ada, bening tetesan sungainyalah yang digunakan oleh Tuhan untuk membuat kedua bola mata gadis itu.

Dengan susah payah aku berhasil memalingkan pandanganku.

Aku menyentuh dadaku dengan sebelah tangan, ada sesuatu yang aneh menggelitik jantungku. Aku kembali memberanikan diri mencuri pandang ke arahnya. Lagi-lagi jantungku berhenti berdetak untuk sesaat, tapi kali ini diikuti oleh sensasi luar biasa. Jantungku seperti mencoba meloncat keluar dari dalam rongganya.

Saat itulah aku yakin bahwa ada yang lain dengan gadis itu. Ada sebuah mantra dan guna-guna yang membuatku ingin terus menatap kedua bola matanya. Ada sihir yang membuatku ingin terus melihat senyum manisnya.

Gadis itu sepertinya menyadari kehadiranku, jadi aku melakukan hal terbaik yang bisa kulakukan pada saat itu; berbalik arah dan berjalan menjauh.

Pengecut.. dasar pengecut.. teriakku pada diri sendiri. Memang seharusnya ini jadi perkara sederhana kan? Aku tinggal berjalan ke arahnya, mengulurkan tangan, kemudian kita berkenalan.

Sesederhana itu.

Tiba-tiba aku malu dengan namaku sendiri, nama yang konon katanya adalah sebutan untuk ras terhormat dengan kasta tertinggi bagi umat manusia.

Aku menyembunyikan diri dibalik rak terdekat yang bisa kucapai. Gadis itu tampak masih asyik bercerita. Suaranya memang tak terdengar dari sini, tapi aku yakin ceritanya menarik. Bisa kulihat teman-temannya yang lain terpaku saat dia berbicara, mereka semua memperhatikan, seakan terhipnotis oleh kedua bola matanya, dan sepertinya akupun begitu.

Beberapa hari kemudian aku kembali melihatnya. Kali ini dia sendirian. Dia duduk di tempat yang sama dengan waktu itu. Dia tampak sangat khusyuk membaca. Sesekali senyum tipis tersungging dari wajahnya, tapi lebih sering lagi aku melihat kerutan, dan rona kesedihan.

Kuintip judul buku yang sedang dia baca, Oedipus.. mitologi yang bahkan umurnya jauh lebih tua daripada hitungan tahun masehi.

Aku terus memperhatikannya dari balik rak buku. Tanganku secara acak mengambil buku dari rak, kubuka buku tersebut sebagai kamuflase, agar dia tidak curiga.

Sesekali pandangan gadis itu mengedar ke sekeliling ruangan, seperti sedang mencari-cari sesuatu yang hilang. Atau.. bisa juga dia sebenarnya sedang menunggu seseorang.

Ini kali ketiga aku melihatnya. Beberapa saat setelah aku masuk, kulihat dia datang, meletakan tasnya di sofa, kemudian duduk. Masih saja duduk di tempat itu, di tempat yang sama dengan dua kali sebelumnya.

Begitu juga aku, masih saja berdiri di balik rak buku ini, mencuri-curi pandang ke arahnya.

Jantungku kembali berdegup kencang, membuatku sangat gugup.

Sebuah kesadaran tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam pikiranku. Ini adalah pertanda! Tiga kali kami bertemu di tempat yang sama. Takdir telah berbicara, mendekatkan kami berdua. Sayang sekali jika aku mengabaikannya.

Entah darimana kudapatkan impuls keberanian itu. Aku meletakkan buku yang sedang kupegang di rak. Setelah itu dengan agak tergesa-gesa dan canggung aku berjalan mendekatinya. Gadis itu memandangku, dia tersenyum melihatku yang berdiri kaku seperti patung satu meter di hadapannya.

“Hai..” dia menyapa terlebih dahulu, suaranya berdesir, lembut.

Aku berdehem

“Hai,” jawabku canggung.

“Aku pikir kamu nggak bakal berani kesini, aku hampir nyerah loh,” dia terkekeh.

“Eh?” aku terkejut, sama sekali tak kusangka dia akan berkata seperti itu. Itu berarti selama ini dia sadar akan kehadiranku. Dan.. Ya Tuhan! Dia sengaja datang kesini untuk bertemu denganku?

“Kamu nunggu saya?”

Dia mengangguk.

“Sejak pertama kali pandangan kita bertemu beberapa hari yang lalu, kamu terus-terusan ngeliatin aku kan?” dia kembali tersenyum.

Astaga.. dia tahu. Wajahku sekarang sepertinya mulai memerah. Dapat kurasakan panasnya telingaku mendengar hal tersebut.

“Kenapa kamu bisa yakin kalau saya ngeliatin kamu?”

Oh Come on.. mana ada pria yang mondar-mandir di rak buku-buku merangkai tanaman tiap hari. Aku kira kamu malu karena waktu itu aku bareng temen-temen, jadi aku dua hari ini dateng sendirian kesini,” dia menunjuk rak tempatku bersembunyi.

Aku membalikan badan, Ah.. bodohnya, tanpa kusadari dari kemarin aku berdiri di rak tempat buku-buku berkebun dan merangkai tanaman disimpan.

“Errr.. mungkin juga kan kalo itu memang hobi saya?” aku mencoba mengelak.

“Jadi tebakanku salah?” dia tersenyum.

“Enggak juga sih. Hehehe,” aku tertawa gugup.

Kemudian hening selama beberapa saat.

“Arya,” karena sudah kepalang tanggung, aku langsung memperkenalkan diri.

“Andini,” dia menjabat tanganku.

“Boleh duduk disini?”

“Boleh,”

“Ehmm.. jadi, kemaren saya lihat kamu baca Oedipus,”

“Nah kan. Kamu bahkan tau buku yang aku baca,” Andini terkekeh.

Hari itu takdir diantara kami berdua mulai terjalin dan terpilin. Hanya saja bukan seperti yang kami bayangkan.

Enam bulan berikutnya adalah masa terindah dalam hidup kami. Aku seperti merasa hidup di dunia dongeng. Rasanya tak bisa kupercaya semua yang kualami ini bukan hanya cerita fiksi.

Aku tidak terkejut dengan bagaimana kami berdua ternyata memiliki banyak sekali kesamaan. Mulai dari sifat, hobi, kebiasaan, dan hal-hal remeh lainnya.

Aku sudah mengetahui hal tersebut dari kali pertama kami mengobrol. Kami seperti satu organisme tunggal yang terbelah dua, hanya saja kami terlempar ke tempat yang berbeda sejak terlahir ke dunia.

Di antara semua kemiripan itu, kesamaan utama kami tentu saja adalah besarnya rasa cinta kami pada buku.

Saat bertemu terkadang kami sengaja menghabiskan waktu beberapa jam untuk membaca bersama, atau sekedar duduk-duduk sambil membicarakan buku yang pernah kami berdua baca. Berdiskusi, berdebat, atau sekedar membuat candaan dari buku tersebut.

Kami sepakat menganggap Twilight Saga dan Percy Jackson adalah omong kosong. Aku bersikeras mengklaim Iliad dan Odyssey karya Homer adalah literatur sastra terbaik yang pernah diciptakan oleh peradaban manusia. Andini langsung menggeleng cepat, menurutnya Beowulf dan Kalevala adalah nomor satu.

Suatu hari Andini memberitahuku bahwa dia memiliki sebuah ruangan khusus di rumahnya tempat dia menyimpan koleksi buku-buku favoritnya. Sebuah perpustakaan mini miliknya pribadi.

Hal itu membuatku makin tergila-gila kepadanya. Aku merasa seperti seorang pecandu yang menemukan seorang bandar besar yang bisa memberiku narkotika secara gratis.

Semenjak itu setiap kali kami bertemu Andini akan membawakan beberapa buku dari perpustakaan mininya untuk dipinjamkan kepadaku. Pun denganku, aku akan membawakan buku-buku yang kumiliki untuk dibaca Andini.

Sayangnya koleksi Andini ternyata jauh lebih banyak. Aku sejak dulu terbiasa untuk meminjam buku dari perpustakaan kota daripada membeli sendiri. Selain itu banyak juga diantara buku yang kumiliki telah dibaca dan juga dimiliki juga oleh Andini, maka dengan segera aku kehabisan stok buku untuk ditukarkan dengan buku Andini.

Karena merasa tidak enak jika hanya meminjam saja tanpa memberikan apa-apa, aku memikirkan cara lain untuk membalas kebaikan hati Andini. Selama beberapa hari selanjutnya aku berpikir keras, mencari hal-hal yang tidak dimiliki oleh Andini. Yang jelas bukan materi, aku tahu kalau keluarganya jauh lebih kaya daripada keluargaku.

Hal ini haruslah hal yang tidak dimiliki oleh Andini, atau bisa juga hal yang tidak pernah dilakukan olehnya.

Lalu aku mendapatkan ide.

Andini adalah gadis rumahan. Dia adalah tipe orang yang bisa mengurung diri di ruangan selama berhari-hari tanpa repot merindukan dunia luar. Berbeda denganku yang lebih senang berada di luar dan menikmati alam sekitar.

Maka sebagai ucapan terima kasih kepada Andini, setiap ada waktu luang atau hari libur aku mengajaknya berkeliling menjelajah dunia nyata. Bukan hanya menggunakan imajinasi dengan perantara aksara, namun menjejakan kaki dan menikmati langsung rasanya dunia luar.

Setiap akhir pekan, saat orang lain berlomba-lomba untuk pergi ke pusat kota, menyerbu mall-mall untuk membelanjakan uang yang tak mereka miliki demi membeli barang yang tak mereka butuhkan untuk membuat kagum orang-orang yang tak mereka sukai[1], kami menyepi dari keramaian, pergi ke pinggir kota, menjelajahi taman-taman dan perbukitan yang banyak terdapat di sekitar kota kami.

Dan seperti yang kuduga, Andini sangat menikmatinya. Dia seperti tersadar bahwa ada dunia lain yang bisa melengkapi dunia bukunya. Walaupun memang bukan hal yang gampang bagi Andini untuk membiasakan diri dengan kegiatan barunya ini.

Seringkali kudengar dia mengeluh soal serangga dan dedauan yang membuat kaki dan tangannya bentol-bentol, serta terik mentari yang membuat wajahnya dipenuhi oleh keringat.

Tapi bisa kulihat rona bahagia terpancar dari wajahnya ketika kami menjelajah bersama.

Hal ini menjadi kegiatan rutin kami. Jika tempatnya dekat kami akan membawa sepeda milik masing-masing.

Mengayuh pedal dari pagi buta, semenjak embun masih turun dan matahari belum naik. Tapi jika agak jauh kami berdua naik bus atau kereta untuk sampai ke tempat tujuan.

Setelah puas menjelajah taman, bukit, ataupun hutan, kami akan menentukan titik terbaik yang bisa digunakan untuk beristirahat. Terkadang kami beristirahat di atas hamparan rerumputan, dikelilingi ranting dan dedaunan. Terkadang kami berbaring terlentang, menerima dengan pasrah terik mentari yang menghangatkan kulit, sambil mencium aroma rumput dan bunga yang semerbak.

Di lain waktu kami bisa berada di bawah pohon, bersandar pada lumut empuk yang menempel pada akar dan batang pohon, atau bisa juga di atasnya, duduk manis di atas dahan sambil melihat pemandangan yang tak bisa terlihat dari atas tanah, ditemani oleh semilir angin sore yang merembes ke dalam pori-pori kulit, menyejukan sanubari.

Dan bagian terbaik dari semua itu tentu saja adalah kehadiran Andini. Tawa kecilnya, senyumannya, tatapan matanya, serta suaranya yang berdesir saat berbicara dan bercerita.

Kehidupan kami tak bisa lebih sempurna daripada ini.

Pada suatu hari di bulan kedelapan, kami menghabiskan sore di sebuah bukit kecil di bagian sebelah selatan kota. Tempat yang didakwa Andini menjadi tempat favoritnya.

Di puncak bukit landai itu terdapat sebuah pohon sycamore tua dengan tinggi hampir enam meter. Kami berdua memandangi pohon tua itu. Dahannya banyak, dan walaupun terlihat sangat tua, tapi daunnya masih lebat memenuhi tiap jengkal dahannya.

Setelah beristirahat selama beberapa menit, kami memutuskan untuk memanjat pohon tersebut sampai setengah tingginya.

Di sana kami memandangi perbukitan dan kebun yang terhampar luas yang bercumbu langsung dengan cakrawala di ujung langit. Andini dengan takjub memperhatikan gumpalan awan yang bergerak perlahan menuju ke arah timur, menjauhi mentari senja.

“Ini pertama kalinya aku naik pohon setinggi ini,” Andini berbicara sambil menyenderkan punggungnya ke batang pohon.

“Oya?”

“Ya,” angguknya. “Luar biasa sekali, Ar. Aku nggak pernah nemu lukisan buatan manusia yang bisa menyamai keindahan pemandangan ini. Bahkan pelukis terbaik di dunia pun tidak akan mampu.”

Matanya nanar menatap hamparan bukit di kejauhan. Selama beberapa menit berikutnya Andini terdiam, hanyut dalam pikirannya sendiri.

“Kamu bahagia, Ar?”

“Eh?”

“Hidup kamu. Apa kamu bahagia sama hidup kamu saat ini?”

“Hidup saya udah nggak bisa lebih sempurna dari sekarang, kenapa?” Aku tersenyum.

“Aku juga. Kamu bikin hidup aku sempurna, Ar. Tapi terus terang aja aku takut.”

“Takut?”

“Ketika kita terlalu bahagia, biasanya akan ada hal buruk yang terjadi. Aku takut takdir bosan bermain dengan kita, dan tiba-tiba memutuskan untuk pergi.”

“Omong kosong,” aku menampik, “takdir nggak akan tega berbuat seperti itu.”

Andini menarik nafas, “takdir bisa berbuat semaunya, Ar. Kita nggak akan pernah tau.”

“Maksud kamu apa?”

“Dulu orangtuaku bahagia, Ar. Mereka saling mencintai satu sama lain. Lima belas tahun mereka menikah, tak sekalipun pernah kudengar mereka bertengkar atau cekcok. Kami punya kehidupan yang sempurna. Tapi toh takdir berkata lain, tanpa sebab yang bisa dijelaskan oleh akal sehat, mama memutuskan untuk pergi, menjemput takdirnya bersama pria lain. Meninggalkan kami berdua.”

Kulihat mata beningnya sedikit berkaca-kaca saat mengatakan hal tersebut. Aku hanya terdiam, hal itu baru pertama kali kudengar.

“Kamu membenci takdir?”

“Aku benci karena nggak tau takdir apa yang akan kita alami, Ar.”

Aku menghela nafas panjang. Aku sendiripun punya cerita soal takdir.

“Kamu tau kan saya juga dibesarkan oleh orangtua tunggal, Din. Ayah udah lama sekali meninggal. Bahkan wajah beliau aja sekarang udah samar di dalam otak saya. Dulu saya selalu mempertanyakan takdir. Kenapa, kenapa dan kenapa? Kenapa saya nggak punya ayah? Kenapa ibu sering menangis? Kenapa rumah kami digusur? Kenapa kami harus pindah ke kota ini? Dan berbagai macam kenapa yang lainnya. Dulu saya nggak pernah berhenti bertanya, tapi saya saat ini malah bersyukur hal itu terjadi. Kamu tau kenapa?” Aku menyunggingkan senyum kecil.

Andini ikut tersenyum, memandang lekat kedua mataku. “Karena semua hal itulah yang menuntun kamu ke titik ini. Sehingga kita bisa bertemu, kan?”

Aku mengangguk.

“Takdir bekerja dengan cara misterius, kita nggak akan pernah tau apa maksudnya. Tapi Jika kita menggunakan akal kita untuk berpikir dan hati kita untuk bersyukur, ada maksud besar dibalik setiap peristiwa. Kamu harus percaya itu.”

“Kamu harus janji, Ar.”

“Berjanji soal apa?”

“Kamu harus janji jika benar nanti takdir mengikat kita secara penuh, menyatukan kita seutuhnya, kamu bakal ngajak aku lagi kesini,” Andini tersenyum.

Aku kembali mengangguk. Dalam hati aku berdoa agar hal itu benar-benar terjadi.

Andini benar, ternyata memang tidak mungkin semuanya terus berjalan dengan lancar.

Roda kehidupan kami mulai bergerak lagi, meluncur turun dengan cepat dari puncak menuju ke dasar. Semua itu mulai terasa saat kedua orang tua kami tak sengaja bertemu.

Saat itu bulan kesepuluh semenjak pertemuan pertama kami. Selama ini aku memang sudah beberapa kali bertemu dan mengobrol bersama dengan ayah Andini, begitu pula dengan Andini, beberapa kali dia pernah bertemu dengan ibuku. Tapi kedua orang tua kami sama sekali belum pernah saling bertemu satu sama lain.

Sore itu aku sedang membantu ibu membereskan barang dagangan di toko kami. Menumpuk dus-dus berisi stok makanan kaleng yang baru saja tiba dari distributor.

Toko kecil inilah yang menjadi satu-satunya sumber penghasilan keluarga kami semenjak ayah meninggal.

Tiba-tiba sebuah mobil sedan terlihat dari kejauhan. Aku berhenti membereskan barang. Mobil itu kian mendekat, kemudian berhenti tepat di depan halaman toko.

Jendelanya terbuka dengan perlahan, dibaliknya muncul kepala Andini. Dia tersenyum sambil melambaikan tangannya. Aku segera meletakkan dus yang sedang kupegang. Kubalas lambaiannya, lalu aku berlari-lari kecil menghampirinya.

“Hai, Din,” sapaku. Kemudian aku menyadari bahwa dia tidak sendirian. Ayahnya duduk di sebelahnya.

“Sore, Pak,” Aku menyapa ayah Andini dengan anggukan singkat. Ayahnya tersenyum sambil ikut menganggukan kepala.

“Ada apa? Masuk yu.”

“Nggak usah, Ar, tadi kebetulan kami lewat kesini, jadi sekalian aja mau ngembaliin buku.” Andini keluar dari dalam mobil sambil membawa sebuah bungkusan.

Dia berjalan mendekatiku. Kami kemudian berjalan bersama ke arah toko.

“Udah selesai?”

Dia mengangguk.

“Kebetulan kemarin nggak terlalu banyak tugas,” katanya sambil menyerahkan bungkusan berisi buku yang kupinjamkan kepadanya dua hari yang lalu. Aku mengambil bungkusan itu dan meletakkannya di atas meja.

“Ada siapa, Ar?” ibuku tiba-tiba muncul dari balik pintu belakang.

“Eeh, Andini,” beliau tersenyum melihat Andini. Andini mengangguk sambil balik tersenyum.

“Sore, Bu. Apa kabar?”

“Baik-baik, ayo masuk dulu, masa ngobrolnya diluar. Ar, ajak masuk Andininya.”

Aku mengangguk. 

“Nggak usah, bu. Saya lagi sama ayah. Ini cuma mau ngembaliin buku,” dia menunjuk ke arah mobil sedannya.

Ibu melihat ke arah mobil yang pintunya terbuka untuk menyapa ayah Andini.

Tapi dia seketika terpaku ketika melihat ayah Andini yang sedang duduk di kursi pengemudi. Di wajahnya tampak raut ketidakpercayaan. 

“Itu.. ayah kamu?”

“Iya,” dia menjawab sambil melihat ke arahku. Sama denganku, Andini terlihat sedikit bingung dengan maksud dari pertanyaan ibu.

Aku ikut melihat ke arah mobil. Ayah Andini juga terlihat sedang terpaku memandangi ibuku.

Setelah beberapa detik, ayahnya kemudian keluar dari dalam mobil dan berjalan mendekati kami bertiga.

“Tino?” Ibuku bertanya dengan ragu-ragu.

“Indah?” Ayahnya menyebut nama depan ibuku sambil tersenyum lebar.

Ibuku mengangguk, lalu tertawa kecil. “Astaga! udah berapa taun kita nggak ketemu ya? Apa kabar?”

“Kalian.. udah saling kenal?” aku memotong. Mereka mengangguk bersamaan.

∞ 

Apa yang seharusnya menjadi kunjungan singkat dan sederhana kini berubah. Ibu mengajak ayah Andini untuk masuk dan mengobrol sebentar di dalam rumah, dan beliau langsung setuju.

Dari obrolan akrab mereka berdua, semuanya tanda tanya kami menghilang. Ternyata ayahnya dan ibuku dulu adalah teman masa kecil. Mereka satu sekolah dari SD, tapi mereka berdua tidak pernah bertemu lagi semenjak keluarga ibuku pindah ke kota lain saat kelas tiga SMP. Sudah dua puluh tahun lebih.

Diam-diam aku takjub dengan daya ingat mereka berdua, keduanya masih ingat satu-sama lain walaupun sudah terpisah sekian lama.

Satu jam berlalu, aku dan Andini memutuskan untuk membiarkan mereka mengobrol sepuasnya. Kami berdua pergi keluar duduk-duduk di halaman depan, menikmati langit sore. Andini tidak banyak berbicara saat itu, pandangan matanya bahkan cenderung murung.

“Kenapa, Din? Kok murung.”

Andini menggelengkan kepala, tanda dia belum mau menceritakan apa yang sedang dia pikirkan.

“Benar-benar luar biasa ya,” Aku memutuskan untuk memulai percakapan.

“Apanya?”

“Setelah terpisah sekian lama, kedua orangtua kita ditakdirkan untuk bertemu lagi.”

“Menurut kamu itu hal bagus? Kedua orangtua kita ternyata adalah teman lama?”

“Ya, tentu dong.” Aku menjawab dengan yakin. “Bukannya itu bikin semuanya jadi lebih mudah ya?”

“Entahlah, Ar. Aku masih nggak yakin kalau ini hal bagus.”

“Maksud kamu gimana?”

“Aku takut hal buruk bakal terjadi, Ar.”

“Hal buruk apa sih?” aku mengerutkan kening. Tapi Andini hanya menggeleng, dia tidak ingin membahas hal ini lebih jauh.

Setengah jam kemudian, karena hari sudah sangat sore, Andini dan ayahnya pamit pulang. Kulihat ibu melambaikan tangannya saat melihat mobil ayah Andini melaju meninggalkan toko. Aku memperhatikan wajah ibuku. Senyum lebar merekah di bibirnya, dan matanya tampak berbinar-binar. Pada saat itulah aku juga merasakan apa yang dikhawatirkan oleh Andini.

Kekhawatiran kami berdua semakin hari semakin bertambah. Beberapa kali aku mendengar ibu sedang berbicara dengan ayah Andini lewat telepon. Pernah satu jam lebih kudengar mereka mengobrol. Bukan maksudku untuk menguping, tapi suara ibu yang sedang menelpon di ruang sebelah memang terdengar cukup jelas dari dalam kamarku. Aku berhenti menyimak setelah satu setengah jam. Kututup buku yang sedang kubaca, kusumpalkan bantal di atas kepalaku, dan kupaksakan diriku untuk tidur lebih awal malam itu.

Saat kami berdua pergi hari minggu, Andini juga bercerita bahwa rupanya hubungan kedua orangtua kami dulu bukan hanya sebatas teman. Neneknya memberitahu bahwa ibuku adalah cinta pertama ayah Andini. Hubungan mereka terputus akibat kepindahan ibu. Selama beberapa bulan mereka memang sering saling menyurati. Tapi semakin lama, surat-surat itu semakin jarang datang, sampai akhirnya berhenti sama sekali. Aku tertegun, ibu tak pernah menceritakan hal itu kepadaku.

“Aku benar kan, Ar? Hal buruk akan terjadi jika kita terlalu bahagia.”

“Kecurigaan kamu berlebihan, Din. Kedua orangtua kita cuma lagi seneng nostalgia. For old times sake,” aku berusaha untuk menenangkannya.

“Berlebihan? Kamu liat sendiri kan pas kemaren mereka ngajak kita makan malam berempat?”

“Bagus kan? itu artinya hubungan kita berdua direstuin sama mereka,” aku masih berusaha untuk melihat dari persprektif yang lain, dengan prasangka baik.

Please, Ar. Kita berdua tuh seperti dianggap nggak ada tadi malem. Mereka berdua asyik ngebangun lagi dunia mereka yang dulu hilang. Jangan bilang kamu nggak liat gimana cara mereka berdua saling menatap satu sama lain. Ada cinta disana. Ibu kamu janda, dan ayah aku duda. Satu-satunya penghalang hubungan mereka adalah kita, Ar! “

“Cukup, Din.. saya tau itu, saya juga liat. Tapi kita bisa apa?”

“Jadi kamu mau diem aja? Nunggu sampai semuanya terlambat?”

Aku tak bisa menjawabnya.

Satu tahun setelah pertemuan pertamaku dan Andini.

Malam ini aku tak bisa tidur. Berbagai macam pikiran menari-nari dan berputar di kepalaku. Menginjeksi neuron dengan pikiran-pikiran negatif. Ini sudah hampir jam sebelas, dan ibu belum pulang.

Ibu dan ayah Andini semakin hari semakin dekat. Bagai dua kutub magnet yang saling tarik-menarik, mereka mendekatkan diri satu sama lain tanpa bisa dibendung. Aku tahu apa yang akan terjadi, dan itu memang tak dapat terhindarkan.

Di satu sisi, aku mencintai Andini sepenuh hatiku. Dia adalah setengah bagian dari diriku, yang membutku sempurna, aku ingin terus bersamanya, walau apapun yang terjadi.

Tapi di sisi lain, aku sepenuhnya sadar bahwa ibu juga berhak bahagia. Semenjak ditinggal oleh ayah, tak pernah kulihat ibu sebahagia sekarang. Jika ada orang yang bisa membahagiakan ibu, tak kupungkiri bahwa orangnya adalah ayah Andini.

Kudengar suara kunci pintu depan diputar. Aku bergegas keluar kamar dan melihat ke arah ruang tamu, Ibu baru saja melepaskan sepatunya.

“Belum tidur, Ar?” dia menyapaku lembut.

“Belum, darimana aja ibu?” Aku menjawab sekaligus bertanya.

“Ooh, barusan ibu nemenin ayahnya Andini ke pesta perpisahan pegawai.”

“Sampai jam segini?”

“Yaa, habis itu kita makan malam diluar,” beliau tersenyum, kemudian duduk di sofa.

Aku ikut duduk di hadapannya, terdiam. Selama sepuluh sekitar sepuluh menit kami berdua hanya duduk diam. Aku tahu ibu ingin membicarakan sesuatu. Aku juga, tapi kami berdua sama-sama tidak bisa mulai berbicara. Akhirnya ibu menyerah, dan berbicara terlebih dahulu.

“Ar, ibu mau nanya.”

“Nanya apa bu?”

“Kamu.. serius sama Andini?”

“Serius, bu. Saya sayang sama dia.” Aku menjawab jujur.

“Gitu ya,” matanya mendadak sayu. Ibu kemudian menundukkan kepalanya.

“Emangnya kenapa, bu?”

“Ibu bingung, Ar.. ibu tau kalau kalian berdua saling mencintai. Tapi ibu juga nggak bisa membohongi perasaan ibu sendiri. Udah lama ibu tidak merasa seperti ini, Ar. Bertemu kembali dengan Tino membuat ibu merasa kembali hidup. Membuat ibu mengenal kembali bagaimana rasanya dicintai.”

“Berarti selama ini ibu nggak ngerasa saya cintai ya?” sikapku padanya makin skeptis.

“Itu dua hal yang berbeda, Ar.”

“Jadi saya harus gimana, bu?”

“Ibu nggak tau. Tapi ibu yakin pertemuan kami berdua memang sudah ditakdirkan.”

Aku tercekat. Aku ingin menyangkal keterlibatan takdir atas semua kejadian ini, tapi aku tak bisa. Semua benangnya langsung terhubung. Apa yang terjadi selama satu tahun antara aku dan Andini rupanya adalah untuk membawa kami semua ke dalam keadaan ini. Aku seakan mendapatkan pencerahan. Kudengar suara takdir tertawa puas di dalam kepalaku.

“Tino barusan melamar ibu, Ar.”

“Ibu menjawab apa?” tanyaku lemas. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Yang sekarang sedang kupikirkan adalah bagaimana jika Andini sampai mengetahui tentang hal ini? Mudah-mudahan dia bisa menerimanya.

“Ibu belum menjawab. Menurut kamu bagaimana, Ar?”

Aku menggelengkan kepala, mataku terasa perih. Ingin rasanya kuteriakan kata TIDAK.

Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba telepon rumah kami berbunyi. Aku segera mengangkatnya.

“Hallo?”

“Arya?”

“Ya, ini siapa?”

“Ini ayahnya Andini.”

“Oh, mau ke ibu ya, Pak. Bentar..” aku hendak menyerahkan gagang telepon itu kepada ibuku.

“Tunggu,” suara ayah Andini tampak panik.

“Kenapa, Pak?”

“Andini.. ada disana?”

“Nggak ada. Emangnya dia nggak ada di rumah?” jantungku mulai berdegup kencang.

“Andini barusan kabur dari rumah,” saat itu seluruh dunia serasa runtuh di atas kepalaku.

Pukul tiga pagi. Aku, ayah Andini, Ibu, dan beberapa kenalan kami telah berkeliling kota untuk mencari Andini. Kami mencari selama berjam-jam. Hampir semua sudut kota ini telah kami sisir. Semua kenalan Andini telah dihubungi, tapi tak ada satupun yang tahu keberadaannya.

Seperti yang kuduga, Andini meledak pada saat ayahnya memberitahu soal lamaran itu. Andini sama sekali tidak terima. Dia menolak mati-matian rencana pernikahan kedua orangtua kami. Lalu ketika ayahnya lengah, Andini membawa ransel dan sepedanya, kemudian kabur meninggalkan rumah.

Saat ini aku sedang berada di rumah, mencoba menebak jalan pikiran Andini. Kemana dia kira-kira pergi? Di tengah malam seperti itu dia tidak mungkin bisa pergi terlalu jauh. Aku yakin dia masih ada di kota ini.  Astaga Andini, apa yang kau pikirkan?

Aku mencoba menenangkan diri. Andini adalah anak rumahan, dia tidak terlalu tahu banyak tempat di kota ini, dan biasanya dia pergi kemana-mana bersamaku. Jadi tempat yang dia tuju pastilah tempat yang aku tahu. Tempat yang hanya kami berdua tahu.

Sebuah kesadaran tiba-tiba merangsek masuk ke dalam kepalaku. Tentu saja! Tempat yang dulu dia bilang adalah tempat favoritnya. Aku yakin dia sedang berada di bukit itu sekarang, berdua dengan pohon sycamore.

Tanpa membuang waktu aku langsung mengambil sepedaku di garasi, dan mengayuh pedal secepat mungkin ke arah bukit di bagian selatan kota. Kulihat samar dari timur pagi mulai merekah, aku mematikan lampu sepeda, jalanan di depan sudah cukup terang sekarang. Dalam hai aku terus menerus berdoa agar Andini memang benar ada disana.

Selama setengah jam aku tak berhenti mengayuh sepeda sekuat tenaga.

Saat sampai di kaki bukit ku melompat dari atas sepedaku dan berlari secepatnya menuju ke arah puncak bukit. Sepanjang jalan aku berteriak-teriak memanggil namanya. Nafasku sudah nyaris habis ketika aku sampai di bawah pohon sycamore tua itu. Andini tidak ada disana. Dengan panik aku melihat ke sekeliling, tapi tak ada siapa-siapa disana. Aku memukul dahan pohon itu dengan putus asa.

“Kenapa lama sekali?” Suara lembut Andini terdengar dari atas.

Aku menengok. Andini sedang duduk di atas salah satu dahan pohon, tersenyum kepadaku.

“Semua orang nyariin kamu, Din,” aku duduk di atas dahan di sampingnya.

“Bodo,” dengusnya.

Aku mendekatkan posisi dudukku agar lebih mendekatinya.

“Aku benar kan, Ar? takdir ternyata telah bosan bersama dengan kita.”

“Dia nggak bosan, hanya saja takdir memang usil. Kali ini kita dikerjai habis-habisan,” aku terkekeh.

“Tetap aja, aku ngerasa satu tahun ini pada akhirnya terbuang sia-sia.”

“Nggak sia-sia, Din. Apa yang kita rasakan ini nyata, berharga. Hanya saja kita nggak tau bahwa ternyata pertemuan kita setahun yang lalu sebenarnya adalah cara takdir untuk mempertemukan kedua orang tua kita lagi.”

“Ar, ayo kita lari.”

“Hah? Kemana?” Aku terkejut.

“Kemana aja, aku nggak mau disini lagi. Aku nggak mau hubungan kita berakhir,” setetes air mata meleleh dari ujung bola matanya.

“Tenang aja, Din. Ibu saya belum menjawab lamaran ayah kamu kok,” aku menjelaskan.

“Apa bedanya? Pada akhirnya aku tau ibu kamu bakal nerima pinangan ayah,” dia menatapku dengan lemas.

Aku menggelengkan kepala.

“Usaha kamu berhasil. Ayah kamu sepertinya mengurungkan niatnya untuk melamar ibu. Tadi kami bertiga bicara di rumah. Kebahagiaan kamu jauh lebih penting buat dia, Din.” Aku tersenyum.

“Oya?” Andini tampak senang.

“Ya.”

“Syukurlah mereka nggak jadi menikah.”

Aku mengangguk. Tapi sebenarnya ada hal lain yang kusadari. Hal penting yang harus diketahui juga oleh Andini.

“Tapi.. saya sekarang malah setuju jika mereka menikah.”

“Maksud kamu apa, Ar?”

“Saya.. terus terang saya ingin liat ibu bahagia,” aku menarik nafas, tidak akan mudah menjelaskan ini semua pada Andini.

“Kamu tau? semenjak ayah saya meninggal, baru beberapa bulan yang lalu saya bisa liat ibu tersenyum selebar itu, pipi semerona itu, dan tawa setulus itu, dan semuanya dia dapatkan saat bersama dengan ayah kamu. Ayah kamu adalah nafas baru buat ibu, dan saya takut jika saya mengambilnya ibu bakal mati, untuk kedua kalinya. Saya nggak mau liat ibu terluka lagi.”

“Tapi..” Andini tampak shock mendengar ucapanku.

“Gimana dengan ayah kamu? coba kamu pikirkan baik-baik,” aku menatap lekat kedua matanya.

“Ayah harusnya bisa cari perempuan yang lain,” dia menatap ke arah timur, memandang ufuk yang merekah.

Aku tersenyum.

“Tentu saja ayah kamu bisa. Selama inipun dia selalu bisa. Tapi toh dia tidak melakukannya kan? Coba kamu pikirkan, itu karena dia hanya ingin bersama dengan orang yang benar-benar dia cintai. Dia bilang sendiri kalau selama ini dia mencari sosok yang tepat untuk jadi ibu kamu, dan itu semua ada di ibu saya.”

“Ar.. tapi itu berarti kita bakal jadi saudara angkat. Kita nggak bisa bersama lagi!” Andini memelas, aku yakin dia sebenarnya mengerti semua yang kukatakan, dia hanya belum bisa menerimanya dengan penuh.

Aku menggenggam tangannya.

“Kita masih muda. Perjalanan kita masih jauh. Kita nggak tau takdir seperti apa lagi yang akan menimpa kita di depan sana. Kita masih mempunyai banyak kesempatan. Lingkungan baru, orang-orang baru, dan juga cinta baru.”

Aku berhenti berbicara untuk menyeka titik air mata di bola mata kananku, sakit rasanya harus mengatakan hal itu pada Andini.

“Dan siapa bilang kita nggak bisa bersama lagi? Kita malah akan terus bersama, sebagai keluarga.” Aku tersenyum, “kita lepaskan rasa cinta kita buat dapat cinta yang lebih besar, Din. Rasa cinta sebagai sebuah keluarga.”

Andini mengangguk. Butiran, butiran air mata mulai meleleh di pipinya, dan dia mulai terisak. Aku merenggangkan tangan kiriku untuk menariknya ke dalam pelukanku.

We’ll be fine,  dik.”

……

“Iya, kak.”

Bandung, 16 September 2012
Suntingan terakhir: 1 Juni 2020

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
20 Comments
Terlama
Terbaru Terpilih
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
ichyfitri

ihiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiyyyyyyy :p
kalo ga salah antara cerpen sama novel itu namanya novelet deh. Ditengah2nya gitu. Itu kalo ga salah inget pelajaran pas sma yak :mrgreen:

ichyfitri

ceritanya oke kok 😀
kata2 soal takdir itu #makjleb :p

juniblossom

cieee ilham, baca cerita ini aku kebayangnya adegan2 ftv, hehe…
suka ini ham… “Dia tidak bosan, hanya saja takdir memang usil. Kali ini kita dikerjai habis-habisan.”

juniblossom

berbobot koq ham, haha… keren!
aku sejauh ini gak bisa nulis cerita karena itu, gak sabaran n mandek pas ditengah2 cerita, bingung mau diarahin kemana :3
iya ham, lagi bingung mau diisi apa…

juniblossom

bisa ham, diusahain galau dulu deh ini… :3

Ely Meyer

takdir ? percaya ya nggak ya ?

Ely Meyer

gimana ya … andai ada org yg percaya khan jadinya gimana ya, pasrah begitu saja sama takdir ?

Falzart Plain

Alurnya… Wah… (tiba-tiba membuat bagan ceritanya)

Falzart Plain

Pengen dijiplak #eh

~Amela~

setahuku saudara tiri bisa nikah kok ham, kan bukan mahramnya.. tapi mungkin secara sosial dan etika aneh lah yaaa

Langit

kelar baca tulisan ini langsung nanya ke orang seruangan.. “emang sodara tiri boleh nikah ya??”

ternyata boleh 😮

error: maaf, konten web ini telah dilindungi
20
0
Beri Komentarx
()
x