Midnight, close my eyes.. I’m tired, I’m fading.. I am only human, searching places I wont go where your name are written.

– Adhitia Sofyan, Midnight

Tengah malam, satu sudut sempit diantara ke duapuluh empat sisi masa. Sebuah siku yang terpaku ditengah waktu yang berpacu. Sudut kelam nan syahdu. sudut dimana jiwa-jiwa kesepian meringkuk kedinginan. Sudut dimana hampa terasa lebih menyenangkan, dan sunyi itu mengagumkan.

Ada apa denganmu wahai tengah malam? Ada misteri apa dibalik pesona mistis gemintang dan jagat raya?

tengah malam bukan hanya surga bagi para insomnia, tetapi juga tempat semedi metamorfosa. Tempat fisik berteriak sampai serak, mengajak segera terlelap. Tempat hati ditempa, diuji dalam dilema. Juga tempat nurani bisa berbicara, bercakap dengan sang empunya.

Diatasnya bisa kita lihat, benang tipis dari sutera tak kasat mata, yang membentang panjang, menghubungkan akal batas pada semesta kreativitas, dimana goresan pena ramai bercerita, dan imaji menjadi liar, diluar batas nalar. Dimana percik air terdengar bagai suara mortir, dan suara langkah sepatu bagai lemparan dadu.

O tengah malam, betapa indahnya engkau..

Bandung, 13 Januari 2012

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
10 Comments
Terlama
Terbaru Terpilih
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
wanspeak

puisi yang mengena bagi mahluk nokturnal semacam saya

juniblossom

tengah malam itu sumber inspirasi ham…
tapi harga yang harus dibayar insomnia -_-

Orang awam

btw, secara sistematis (atau apalah nama nya) puisi yg kaya gini jenis nya apa kang ?

hesty

mari begadang… (melanjutkan cerita sense,,hahah)

riki mustopa

kok saya gag asing ma tulisan ini ya ham??

error: maaf, konten web ini telah dilindungi
10
0
Beri Komentarx
()
x