Aku akan memperbaiki semuanya.

Aku sedang berdiri di dekat sebuah perempatan, dimana hiruk-pikuk jalanan silih berganti besahutan. Suara-suara orang dan kendaraan berlompatan, berlarian masuk ke dalam gendang telingaku, membentuk sebuah simfoni absurd yang memekakkan telinga.

Mataku menangkap cahaya menyilaukan dari lampu-lampu yang berkelap-kelip, kupandangi sekelilingku, lampu dari warung, toko, gedung, jalanan, dan kendaraan bersinar terang, membuatku limbung dan kebingungan. Twilight zone.. tak pernah kulihat mereka seterang malam ini.

Aku berjalan mengikuti arah, bersama dengan lautan manusia yang juga akan menyebrangi perempatan itu. Ku perhatikan mereka satu persatu.

Sekumpulan anak sekolahan dengan rok terlalu pendek dan dandanan terlalu menor sedang bercanda, saling menggoda satu sama lain. Pandangan mereka sesekali terarah pada layar ponsel, yang tak pernah lepas dari genggaman mereka semua.

Seorang ibu sedang memarahi anaknya yang rewel, yang tak henti-hentinya menarik lengan ibu itu.. ada apa gerangan? Ah lalu aku melihat apa yang diinginkannya.. lebih tepatnya mencium apa yang dia inginkan. Wangi semerbak ini sudah sangat kuhafal, kulirik pertokoan di sebelah, sebuah restoran cepat saji berada disana, menarik pelanggan dengan aromanya yang membangkitkan selera.

Seorang pria berjalan sempoyongan sambil menenteng botol minuman, pakaian dan tubuhnya sama-sama bau dan berantakan. Sesekali pria itu memaki-maki, dengan ratusan kata-kata kotor yang entah ditujukan pada siapa. Ugh, sungguh memuakkan.

Lalu ada sepasang muda-mudi yang sedang asyik berpegangan tangan, merasa bahwa dunia adalah milik berdua. Yang pemuda dengan wajah canggung dan malu-malu membisikan sesuatu pada telinga pemudi itu, sesuatu entah apa yang membuat wajah pemudi bersemu merah, lalu tersenyum manis. Oh, lihatlah mereka! Bukankah mereka sangat mirip dengan kita? Dengan kita dahulu..

Aku kembali membayangkannya, membayangkan kita di tempat ini, lima tahun lalu.

Masihkah dia ingat, saat dia dengan malu-malu menggandeng tanganku? Aku masih.. aku bahkan masih bisa merasakan jemarinya yang basah oleh keringat saat menggandeng tanganku.

Masihkah dia ingat, apa yang juga dia bisikan padaku saat itu? Aku masih.. dia membisikan reff dari sebuah lagu yang sangat dia sukai. Lagu dari sebuah band british pop tua bernama The Smiths.

And if a double-decker bus, crashes into us.. to die by yourside, is such a heavenly way to die~

Ah, betapa manisnya. Betapa kata-kata itu mampu membuatku percaya, bahwa dialah kekasih yang dipilihkan Tuhan untukku, hanya untukku! Kekasih yang akan menemaniku sampai aku tua nanti, sampai mati..

Tanpa kusadari pandanganku mengabur. Butiran air mata mulai menggumpal di pelupuk mataku berdesakan untuk keluar. Sekuat tenaga kutahan cairan itu agar tetap berada di mataku, kusingkirkan mereka dengan punggung tangan kananku.

Kenapa dia pergi? Kenapa dia meninggalkanku begitu saja? Oh Tuhan.. bukan salahku ini semua terjadi, sama sekali bukan keinginanku! Apa yang bisa kulakukan? Mereka semua ada bertiga, tinggi-tinggi dan berbadan besar, sedangkan aku hanya seorang wanita! Sendirian.. Tak ada yang bisa kuperbuat saat mereka mendorongku ke semak-semak dan menodaiku malam itu. Aku telah melawan sekuat tenagaku, tapi sia sia..

Sekarang air mata itu tak tertahankan lagi, butiran itu mulai menetes satu-persatu, membasahi pipi da daguku.

Tapi tenang saja, aku bisa memperbaiki semuanya.

Langkahku terhenti saat aku melihatnya di perempatan itu. Benarkah itu dia? Ah, tak mungkin aku salah.. perawakan itu, wajah itu.. Wajahnya pilu, dan matanya bengkak. Apakah dia baru saja menangis? Ah sayang.. maafkan aku.

Aku mendekatinya dengan perlahan. Mencoba untuk tidak membuatnya terkejut. Kenapa wajahnya terlihat sangat linglung? dan sesekali dia memandangi mobil-mobil besar yang berlalu lalang dengan kecepatan tinggi di perempatan itu.

Lalu kulihat dia, seperti hendak melangkahkan kakinya ke jalanan, seperti hendak mencoba menyebrang. Kulihat lampu pejalan kaki masih berwarna merah.

Jangan!

Dengan segera aku berlari ke arahnya, tanpa memperdulikan sekitarku. Beberapa orang yang kutabrak mengaduh, dan ada juga yang terjatuh. Aku terus berlari.

Jangan lakukan itu sayang! Tolong..

Aku terus berlari dan berlari, lalu kupeluk tubuhnya dari belakang.

Jangan! Jangan tinggalkan aku, jangan lakukan ini sendirian!

Dan aku melompat ke jalanan, sambil terus memeluknya. Kulihat sebuah truk melintas cepat menuju ke arah kami. Dia berteriak-teriak, mencoba melepaskan diri dari pelukanku, tapi aku malah semakin erat memeluknya.

Ketika truk itu tinggal beberapa meter dari kami, dengan pelan aku berbisik ke telinganya. Membisikan bagian kedua dari reff lagu favoritnya.

And if a ten ton truck, kills the both of us~ to die by yourside, well the pleasure, the privilege is mine~

Terdengar teriakan histeris, aku tersenyum, setelah itu semuanya gelap.

***

Bintaro, 17 September 2011
Diantara lantunan lagu The Smiths

Bagikan
Ikuti
Notify of
guest
9 Comments
Terlama
Terbaru Terpilih
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
Orang awam yang sama

menyentuh…

Hyuman

menarik.

Orang awam yang sama

menyentuh dulu, baru menarik (sudah tentu itu…)

~Amela~

jadi penasaran ama lagunya

Tegar Hippie

keren…. (mata terbelalak dan mulut sedikit terbuka)

error: maaf, konten web ini telah dilindungi
9
0
Beri Komentarx
()
x